By: Syiah Indonesia on 13.16
Syiahindonesia.com – Setelah sebelumnya diberitakan bahwa Syiah berhasil menyusupkan buku-buku sesat mereka dalam acara Islamic Book Fair di Bogor (Baca: Buku-Buku Syiah Berkeliaran di Islamic Book Fair Bogor), kini Syiah kembali akan mengumbar doktrin-doktrin sesatnya dalam event Islamic Book Fair yang akan diadakan pada tanggal 27 Februari – 08 Maret 2015 mendatang.
Pagelaran buku Islam terbesar se-Indonesia ini akan mendatangkan Haidar Bagir sebagai narasumber dalam agenda yang bertemakan talkshow & launching buku yang berjudul “Musafir” Novel Perjalanan Spiritual Ibn ‘Arabi karya Sadik Yalsizucanlar, yaitu tepat pada hari Ahad, 8 Maret 2015 pukul 12.30 – 14.00 WIB.
SIAPAKAH IBNU ARABI?


Baca artikel  selengkapnya di KESESATAN SYIAH  tafhadol
Perlu diketahui bersama bahwa IBNU ARABI adalah tokoh Sufi sesat yang menggagas pemahaman wihdatul wujud (menganggap Allah adalah satu dengan makhluk-Nya) dan peniadaan syariat. Salah satu pernyataannya yang menunjukan kesesatannya adalah:
“Seorang hamba adalah Rabb dan Rabb adalah hamba. Duhai kiranya, siapakah yang diberi kewajiban beramal? Jika engkau katakan hamba, maka dia adalah Rabb. Atau engkau katakan Rabb, kalau begitu siapa yang diberi kewajiban?” -Ibnu ‘Arabi, Al Futuhat Al Makkiyah-
Mohon diperhatikan, perlu dibedakan antara Ibnu-Al-Arabi dengan Ibnu Arabi. Ibnu-Al-Arabi (atau Ibnul-Arabi, dengan alif lam) adalah ulama ahlussunnah yang lurus pemahamannya. Sedangkan Ibnu Arabi adalah tokoh sesat yang sudah banyak dikafirkan oleh para ulama.
SIAPAKAH HAIDAR BAGIR?
Haidar Baqir adalah tokoh syiah Indonesia yang kerap membuat tulisan-tulisan kontroversial di harian Republika.
Dia mengakui dirinya sendiri bahwa ia salah satu pengikut Syiah (Baca: Haidar Bagir Mengakui Dirinya Syiah).
Selain waspada terhadap tokoh Syiah ini, kita juga harus jeli dan teliti terhadap buku-buku yang tersebar di Islamic Book Fair Jakarta ini. Sudah barangpasti kaum Syiah akan ikut andil menjual buku-buku karya “ustadz-ustadz” mereka yang sejatinya mengarah pada pemahaman nyleneh syiah.
Untuk mengetahui data penerbit dan buku-buku Syiah yang menyebar di Indonesia, silahkan baca artikel berikut: Daftar 63 Penerbit dan Buku-Buku Syiah di Indonesia
(nisyi/syiahindonesia.com)
***
Syiah Mengaku Islam tapi Sering Bergabung dengan Musuh
https://www.nahimunkar.com/syiah-mengaku-islam-tapi-sering-bergabung-dengan-musuh/
Syiah Mengaku Islam tetapi sering bergabung dengan musuh untuk membunuhi Umat Islam. Dalam hal Syiah membunuhi Umat Islam, kini contoh nyata di Suriah, rezim Syiah Nushairiyah pimpinan Bashar Assad telah membantai 129.000 umat Islam. Pembantaian bahkan sering pakai senjata kimia itu didukung oleh Syiah Iran, Irak, Libanon dan kafirin Cina dan Rusia. Sehingga gabungan syiah berkomplot dengan gabungan kafir beramai-ramai membantai umat Islam hingga anak-anak, wanita, dan orang-orang tua tak berdaya pun dibunuhi.
Itulah di antara sadis dan kejamnya syiah terhadap Umat Islam.
Meskipun syiah sebegitu jahatnya terhadap umat Islam, namun ada juga kelompok yang justru seolah menjadi teman sejawat. Sehingga ketika Umat Islam berhadapan dengan syiah dan menunjukkan kekafiran syiah dengan bukti-bukti nyata seperti menghina bahkan mengkafirkan para sahabat Nabi dan isteri-isteri Rasulullah shallalahu ‘alaih wa sallam, ternyata ada pihak yang justru menuduhkan bahwa pengkafiran itu dilakukan oleh pihak lain, tanpa menyebut Syiah. Padahal syiah tidak tanggung-tanggung, yang dikafirkan adalah para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang telah dipuji oleh Allah Ta’ala, diridhoiNya. Namun oleh kelompok tertentu, masalah pengkafiran terhadap para sahabat itu seakan tidak dilihatnya.
Kenapa demikian?
Karena memang ada sejumlah kesamaan karakter dalam hal memperlakukan Islam sebagai obyek, bukan sebagai tuntunan yang diikuti secara istiqamah sesuai tuntunan Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam. Sehingga akibatnya, mereka justru berhadapan dengan Umat Islam yang konsisiten isiqomah memegangi Islam sesuai yang dituntunkan Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam. Masih pula dengan aneka tuduhan.
Dengan adanya kesamaan karakter seperti itu, maka ketika syiah telah diketahui oleh Umat Islam tentang kekejamannya bahkan kekufurannya, lalu pihak yang jadi teman sejawat syiah tampaknya ambil sikap yang kadang membingungkan masyarakat. Misalnya seolah melontarkan perkataan keras terhadap syiah, namun di balik itu belum tentu apa yang dikatakan itu diujudkan dalam praktek. Lalu dibumbui teori-teori yang muter-muter, bila dicocokkan dengan kenyataan belum tentu cocok. Itu bagi yang tidak langsung menampakkan diri memihak kepada syiah. Di antara mereka ada juga yang dapat terlihat keberpihakannya terhadap syiah.
Umat Islam tidak perlu kaget bila apa yang di genggaman mereka itu ada kesamaan-kesamaan dengan syiah. Sebagaimana tidak perlu banyak berharap kepada mereka dalam menghadapi bahaya syiah. Karena yang mereka hadapi kemungkinan justru yang istiqomah memegangi tuntunan Rasulillah.
Sebagai gambaran, berikut ini satu tulisan singkat tentang kesamaan kaum sufi/tasawuf dan syiah. Selamat menyimak dengan baik.
***
Kesamaan Kesesatan Sufi Dan SyiahSiapapun yang mengetahui hakikat tasawwuf (Sufi) dan tasyayyu’ (Syi’ah), ia akan mendapatkan keduanya seperti pinang dibelah dua. Keduanya berasal dari sumber yang sama, dan memiliki tujuan yang sama. Oleh karena itu, kedua firqah ini memiliki kesamaan dalam pemikiran dan aqidah. Di antara persamaan dua golongan tersebut, ialah:
Pertama. Kaum Syi’ah mengaku memiliki ilmu khusus yang tidak dipunyai kaum muslimin selain mereka. Mereka menisbatkan kedustaan ini kepada Ahlul bait dengan seenak perutnya. Mereka juga mengklaim memiliki mushaf (Al-Qur‘ân) tersendiri, yang mereka sebut Mushaf Fathimah. Menurut keyakinan mereka, mushaf ini memiliki kelebihan tiga kali lipat lebih besar dibandingkan dengan Al- Qur‘ân yang ada di tangan kaum muslimin.2 Mereka menganggap Muhammad diutus dengan tanzil, sedangkan Ali diutus dengan takwil.3
Demikian pula orang-orang Sufi, mereka menganggap memiliki ilmu hakikat. Sedangkan orang dari luar kalangan mereka, hanya baru sampai pada tingkat ilmu syariat. Mereka beranggapan, bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta’ala menganugerahkan ilmu laduni kepada mereka, saat orang-orang selain mereka mesti menimba ilmu dengan susah payah dari para ulama. Bahkan salah seorang tokoh Sufi , yaitu al-Busthami sampai berkoar: “Kami telah menyelam di dalam lautan ilmu, sementara para nabi (hanya) berdiri di tepinya”.4 Demikian, persamaan antara Sufi dan Syi’ah dalam masalah ilmu kebatinan.
Kedua. Orang-orang Syi’ah mengkultuskan imam-imam mereka dan menempatkan imam-imam itu dengan kedudukan yang lebih tinggi dari para malaikat dan para rasul. Mereka mengatakan, para imam adalah katub pengaman bagi penduduk bumi sebagaimana bintang-bintang menjadi pengaman bagi penduduk langit. Apabila para imam diangkat dari muka bumi -walaupun sekejap- maka bumi dan para penduduknya ini akan hancur.5
Khumaini, salah seorang tokoh besar Syi’ah berkata: “Di antara keyakinan madzhab (baca: agama) kami, bahwasanya imam-imam kami memiliki kedudukan yang tidak bisa diraih, sekalipun oleh para malaikat dan para rasul”.6
Bahkan orang-orang Syi’ah memberikan sifat ketuhanan kepada para imam itu, dan menganggap mereka mengetahui segala sesuatu, meski sekecil apapun di alam ini.
Sifat seperti ini pula yang disematkan orang-orang Sufi kepada orang-orang yang mereka anggap sebagai wali. Katanya, “para wali” itu ikut berperan dalam pengaturan alam semesta ini, dan mengetahui ilmu ghaib. Oleh karenanya, orang-orang Sufi membentuk suatu badan khusus yang terdiri dari para wali mereka. Tugas badan khusus ini adalah mengatur alam dan seisinya.
Dengan pernyataan ini, maka tidak tersisa lagi hak pengaturan alam semesta bagi Allah Ta’ala. Padahal, hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla hak untuk mencipta dan mengatur segala urusan. Maha suci Allah dari apa yang mereka katakan.
Ketiga. Anggapan bahwa agama ini memuat perkara zhahir dan batin telah menjadi kesepakatan antara Syi’ah dan Sufiyyah. Menurut mereka, hal yang batin adalah suatu hakikat yang tidak diketahuinya kecuali oleh para imam dan para wali. Sedangkan yang zhahir ialah apa yang terdapat dalam masalah nash-nash yang dipahami oleh orang kebanyakan.
Dr. Abu al-’Ala’ al-’Afifi menjelaskan kronologi munculnya anggapan batil ini yang merasuki aqidah Islamiyyah dengan berkata : “Munculnya pembagian agama kepada syariat dan hakikat, ialah ketika ada pembagian agama menjadi zhahir dan batin. Pembagian seperti ini tidak dikenal oleh kaum muslimin generasi pertama. Pemikiran seperti ini muncul ketika Syiah mengatakan bahwa segala sesuatu memuat perkara yang zhahir dan batin. Al-Qur`ân pun demikian. Bahkan menurut anggapan mereka, setiap ayat dan kalimat Al-Qur`ân mengandung pengertian zhahir dan yang batin. Dan hal-hal yang batin ini tidak ada yang bisa mengetahuinya kecuali orang-orang khusus dari para hamba Allah, yang khusus dipilih untuk memperoleh keutamaan ini. Semua rahasia Al- Qur`ân akan terbuka untuk mereka. Oleh karena itu, mereka memiliki metode khusus dalam menafsirkan Al-Qur`an yang akhirnya melahirkan kumpulan-kumpulan takwil kebatinan terhadap nash-nash Al-Qur`an dan bisikan-bisikan khayalan mereka yang dikenal dengan istilah ilmu bathin. Menurut mereka, hasil penafsiran diwariskan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam kepada ‘Ali bin Abi Thâlib. Lantas diwariskan dari beliau kepada orang orang yang memiliki ilmu batin yang menamakan diri mereka dengan sebutan al-Waratsah (para ahli waris).
Demikian pula orang-orang Sufi, mereka menempuh jalan takwil ini dalam memahami Al- Qur‘ân, dan banyak mengambil istilah yang dipakai oleh orang-orang Syi’ah. Dengan demikian, kita mengetahui hubungan yang begitu erat antara orang Syi‘ah dan orang Sufiyyah”.7
Keempat. Pengagungan terhadap kuburan serta kunjungan kepada makam-makam merupakan salah satu dasar akidah Syiah. Mereka itulah golongan pertama yang membangun kuburan dan menjadikannya sebagai syiar mereka.8
Kemudian muncul orang-orang Sufi yang syiar terbesarnya adalah pengagungan terhadap kuburan, membangun dan menghiasinya, melakukan thawaf mengelilinginya meminta berkah dan meminta pertolongan kepada penghuninya. Bahkan kuburan Ma’rûf Al Kurkhi, seorang tokoh Sufi diyakini menjadi obat yang mujarab.9
Untuk mengetahui lebih mendetail mengenai hubungan erat antara golongan Syiah dan Tarekat Sufi, Dr. Kâmil Asy Syaiby telah membukukan sebuah kitab melalui pendekatan historis yang berjudul ash- Shilah Bainat Tashawwufi Wat Tasyayyu’.
Sisi persamaan antara Syiah dan Sufi tidak terbatas pada dimensi perkataan dan keyakinan saja. Akan tetapi juga merambah pada sepak terjang nyata yang dapat disaksikan lewat sejarah.
Kaum Syiah bahu-membahu dengan musuh (pasukan Mongol) untuk menghancurkan Daulah Islamiyyah ‘Abbasiyyah. Mereka kemudian menyebarkan ajaran zindîq dan ilhâd (kekufuran). Sampai pada akhirnya, Shalâhuddin al-Ayyubi Rahimahullah berhasil menumpas salah satu dari kelompok mereka yaitu rejim al-’Ubaidiyyah yang berakar pada ajaran Majusi (penyembah api). Maka, kembalilah Daulah Islam ke pangkuan kaum muslimin.
Dan lagi, ketika kaum muslimin berusaha untuk membersihkan Daulah Islam dari para Salibis (kaum Nashara), orang syiah Rafidhah, Nashîr ath-Thûsi dan Ibnul ‘Alqami justru membantu pasukan Mongol untuk masuk ibukota Daulah Islamiyyah, Baghdad. Maka, timbullah kerusakan dan pembantaian kaum muslimin dalam jumlah yang tak terhitung banyaknya.
Ibnu Taimiyyah Rahimahullah berkata : “Musuh-musuh Islam, mereka berhasil masuk Baghdad karena bantuan dari kaum munafikin seperti kaum Isma’iliyyah dan Nushairiyyah (dari golongan Syiah pent). Mereka berhasil menguasai negeri Islam, menjadikan para wanita sebagai tawanan, merampas harta, menumpahkan darah dan kejadian memilukan lainnya. Ini dialami oleh kaum muslimin karena bantuan yang mereka berikan kepada musuh-musuh Islam……10
Demikian pula yang dilakukan oleh kaum Sufi. Setali tiga uang. Mereka juga banyak membantu musuh-musuh Islam untuk merebut negeri Islam dari tangan kaum muslimin. Sebagai contoh, ketika mereka membantu tentara Perancis untuk merebut kota Qairawân. Begitu pula, campur tangan mereka dalam mendukung pasukan Perancis menginjakkan kakinya di bumi negeri Aljazair. Bahkan salah seorang tokoh mereka, Syaikh Muhammad at-Tijâni, penerima amanat Ahmad At-Tijâni (pendiri golongan Tijâniyyah) untuk memegang tongkat kepemimpinan setelahnya, mengatakan pada tanggal 28 Dzulhijjah 1350 H : “Sesungguhnya wajib bagi kami untuk membantu tentara Perancis, yang kami cintai, baik secara materi, maknawi dan politis. Oleh karena itu, saya nyatakan di sini dengan penuh rasa bangga dan tanggung jawab bahwa kakek moyangku telah memilih jalan yang benar ketika mendukung pasukan Perancis sebelum mereka datang ke negeri kita, dan sebelum menjajah wilayah-wilayah kita”.?!
Masih banyak lagi peristiwa lain yang sangat merugikan kaum muslimin yang didukung baik dari kaum Syiah ataupun golongan Sufi. Ahli sejarah Islam, Ibnu Khaldûn Rahimahullah telah menyinggung perihal tersebut dalam tulisannya. Inilah beberapa titik persamaan Syiah dan Tarekat Sufiyyah sehingga jelaslah bagi kita bahwa mereka berasal dari sumber yang satu. Wallahul Musta’ân.
1 Dikutip dari al-Jamâ’at Al Islâmiyyah Fi Dhauil Kitâbi Was Sunnah Bifahmi Salafil Ummah karya Syaikh Saliim bin Id al-Hilâli hlm. 115-127 , Dârul Atsariyyah Th. 1425H-2004M dengan ringkasan.
2 Ad-Dîn Baina Sâil Wal Mujîb karya Al-Hajj Mirza al-Hairi al-Ahqaqi hal 89
3 Firaq asy-Syîah hal 38
4 al-Futûhât al-Makkiyah 1/37
5 Kamâluddin Tamâmunni’mah Ibnu Babuyah al-Qummi 1/208
6 al-Hukûmah al-Islâmiyah 53
7 At-Tasawwuf Wats-Tsaurah Ar-Rûhiyyah Fil Islâm
8 Rasâil Ikhwân Ash Shafâ
9 Thabaqât as- Shûfiyyah, as-Sulami hal 85
10 Minhâjus Sunnah An-Nabawiyyah 1/10-11
Diposkan oleh ATTAZKIYAH MEDIA di 19.10
Label: HUJJAH/ SABTU, 20 SEPTEMBER 2008
Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

0 comments: