TRENDING NOW

KESESATAN SYIAH : Peneliti Syi’ah dari Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS) Surabaya, Kholili Hasib, M.A mengungkapkan beberapa fakta tentang Syiah.

1.Sebelum membahas kekeliruan Syiah harus kita pahami dahulu bahwa Syiah Indonesia adalah Syiah Itsna Asyariah bukan Zaidiyah.
2. Syiah Itsna Asyariyah adalah Syiah yang percaya 12 Imam atau disebut Imamiyah. Syiah ini yang mayoritas ada di dunia termasuk rezim yang berkuasa di Iran.
3. Syiah Imamiyah inilah yang disebut Rafidhah. Karena mereka mencaci bahkan mengkafirkan para sahabat Nabi. Syiah Zaidiyah bukan Rafidah karena tidak mencaci sahabat.
4. Ciri khas utama Syiah ada dua yakni kultus berlebihan pada Ali serta keturunannya dan pelecehan terhadap sahabat Nabi.
5. Saya menyimpulkan dua ciri khas utama itu adalah wordlview-nya Syiah. Semua aspek dalam agama pasti berpangkal pada dua hal tsb.
6. Silahkan yang mau membuktikan pemikiran Syiah tentang al-Qur’an, hadits, politik, fiqih diasaskan oleh kultus Ali dan benci kepada para sahabat.
7. Konsep ketuhanan juga dipengaruhi ideologi kultus imamah. Konsep ke esa an Syiah berbeda dengan konsep ke esa an dalam Islam
8. Kitab al-Kafi-kitab hadits syiah yang utama menjelaskan bahwa yg dimaksud musyrik adalah menyekutukan imam Ali dengan imam yg lain.
9. Lebih jelas lagi dalam kitab Bihar al-Anwar,kitab rujukan Syiah, yg mengatakan “Siapa saja tidak percaya Ali adalah Imam pertama adalah kafir.”
10. Jadi yang dimaksud syirik bagi Syiah bukan sekedar menyekutukan Allah tapi juga menyekutukan Ali dalam hal kepemimpinan.
11. Jadi syiah itu sejatinya golongan takfiriyah yang sebenarnya. Mengkafirkan kaum muslimin karena tidak mengangkat Ali sebagai imam pertama.
12. Non Syiah, orang selain Syiah mereka sebut nawashib. Sebutan hina. Nawashib menurut imam-imam mereka halal hartanya.
13. Syiah menyesatkan para aimmatul madzahib imam madzhab yang empat, Ahlussunnah. Mereka disebut ahlul bid’ah, kafir dan sesat (kitab al-Syiah hum Ahlussunnah).

Baca artikel  selengkapnya di KESESATAN SYIAH  tafhadol


14. Istri tercinta Nabi,Aisyah, disesatkan. Imam Thabrasi mengatakan kemuliaan Aisyah gugur karena melawan Ali, dia ingkar kepada Allah.
15. Syiah mengkafirkan sahabat. Menurut mereka hanya 3 sahabat yang Islam yakni Abu Dzar, Salman, dan Miqdad.
16. Kenapa Syiah menghalalkan mut’ah. Lagi-lagi karena yg meriwayatkan haramnya mut’ah itu Umar bin Khattab. Karena kebenciannya itu haditsnya ditolak.
17. Kenapa Syiah menolak mushaf utsmani sebagai al-Qur’an? Karena yang menyusun itu Utsman yg mereka benci.
18. Dalam kitab Thaharah, Khomaini menyebut sahabat itu lebih jijik daripada anjing dan babi.
19. Syaikh Shoduq ulama Syiah, mengatakan darah nawasib (muslim sunni) itu halal.
20. Imam Khomaini pernah berfatwa bahwa nawasib itu kedudukannya sama dengan musuh yang wajib diperangi (ahlul harb).
21. Karena itu cara tepat mengenal Syiah itu dengan menelaah kitab-kitab induk mereka. Karena itu ajaran mrk sesungguhnya.
22. Jangan terkecoh dengan buku-buku Syiah sekarang. Karena penuh propaganda, intrik dan pengelabuan.
23. Syiah punya rukun agama bernama taqiyah. “La dina liman la taqiyata” artinya tidak beragama yang tidak taqiyyah, disebut dalam al-kafi.
24. Karena taqiyah itu, Imam Syafii berpesan bahwa golongan yang paling banyak bohongnya itu Syiah.
25. Maka jangan heran jika mereka mengaburkan fakta-fakta Syiah Sampang. Karena itu bagian dari aqidah. Teologi kebohongan itulah taqiyah.
26. Waspadalah Syiah punya sayap militan. Mereka pernah mau kirim relawan ke Suriah bantu rezim Asad.


27. Seorang pengurus PBNU pernah menulis, Syiah Indonesia sedang siapkan konsep imamah di Indonesia. Dalam arti mereka sedang siapkan revolusi
28. Syiah membahayakan NKRI. Ada fatwa Khomeini yang mewajibkan Syiah untuk revolusi di negara masing-masing.
29. Gerakan Syiah didukung kelompok liberal. Pokoknya segala aliran yang rusak dan sesat yang dilekatkan pada Islam didukung Syiah. Mereka sekarang bersatu.
30. visi Syiah-liberal hampir sama dalam hal pelecehan terhadap sahabat nabi dan meragukan al-Qur’an.
31. Liberal punya ideologi relativisme. Ternyata Syiah dalam kampanye gunakan ideologi tersebut untuk kelabuhi Sunni.
32. contoh relativisme Syiah adalah, kampanye Sunnah-Syiah sama saja. Sama Tuhan dan Nabinya. Ini mencontek kaum liberal.
33. Filsafatnya orang Syiah ternyata juga berujung pluralisme dan pantaeisme. FiIsalafatnya mengadopsi paripatetik.
34. Demikianlah fakta-fakta Syiah. Jika muslim anti liberal maka seharusnya juga anti Syiah. Mereka sama-sama ideologi perusak Islam.
35. Semoga kita dan keluarga kita dilindungi dari makar Syiah dan Liberal.

Istilah Islam Nusantara baru-baru ini semakin gencar diwacanakan, setidaknya menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin juga ikut mendorong wacana tersebut. Beragam tanggapan muncul atas wacana Islam Nusantara.

Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH.Ma’ruf Amin sendiri tidak mempermasalahkan penggunaan istilah apapun. Terpenting, menurut dia, esensinya adalah mengembangkan Islam yang tidak ekstrim di Indonesia.

“Istilah macam-macam gak masalah, yang penting isinya itu moderat,” katanya menjelang sidang Istbat Penentuan Awal Ramadhan kepada kiblat.net, beberapa waktu lalu (16/6) di Kantor Kemenag, Jakarta.

Menurut dia, MUI mendukung konsep Islam apapun asalkan substansi konsep tersebut moderat. “MUI tidak mempermasalahkan sebutan, yang penting perilakunya itu moderat, washatiyah (pertengahan),” cetus Kiyai Ma’ruf.

Dia menegaskan, istilah Islam Nusantara jangan sampai dipahami sebagai Islam yang berbeda dengan Islam sesungguhnya.

“Jangan sampai Islam itu kemudian diartikan yang lain-lain. Kalau moderat, Islam memang begitu,” tandasnya.

Seperti diketahui, istilah Islam Nusantara yang diklaim sebagai ciri khas Islam di Indonesia yang mengedepankan nilai-nilai toleransi dan bertolak belakang dengan ‘Islam Arab’, telah menimbulkan kontroversi. Tidak sedikit pihak yang pro dan kontra di kalangan penganut Islam di Indonesia.


Reporter: Bilal Muhammad

Editor: Fajar Shadiq

Di tengah khusuknya kaum Muslimin menunaikan ibadah berpuasa, sekonyong-konyong umat ini seolah disibukkan dengan kemunculan istilah baru bernama “Islam Nusantara”. Dalam pembukaan Munas Alim-Ulama NU di Masjid Istiqlal, pada Ahad (14/06), Presiden Jokowi mengatakan, “Islam kita adalah Islam Nusantara, Islam yang penuh sopan santun, Islam yang penuh tata krama, itulah Islam Nusantara, Islam yang penuh toleransi.”

Hal ini menjadi fenomena yang menarik diperbincangkan. Bukan melihatnya dari sudut pandang bagaimana proses kesejarahan masuknya Islam ke Indonesia, sehingga melahirkan akulturasi nilai yang integral dan khas. Melainkan seolah isu ini dijadikan pembenaran sejarah munculnya Islam dalam bingkai kampanye secara masif, Islam Nusantara, yang didikotomikan dengan Islam Radikalis atau Islam Fundamentalis.

Apalagi, munculnya Islam Nusantara dianggap sebagai antitesa dari gambaran Islam Timur Tengah yang dicitrakan penuh dengan kekerasan dan perpecahan dengan mengangkat realitas politik yang berkembang saat ini. Ditambah lagi sebagaimana disampaikan oleh Jokowi berulang-ulang di berbagai forum internasional tentang pentingnya membangun kesan lain atau citra spesifik gambaran Islam Nusantara kepada Barat. Sebuah gambaran Islam yang toleran, sopan santun, moderat dan damai.

Masifnya kampanye Islam Nusantara di tengah konstelasi politik global seperti mengindikasikan bagaimana memosisikan Indonesia sebagai entitas politik mayoritas muslim terbesar dalam percaturan politik internasional. Sangat naif untuk tidak menyebut ada sebuah skenario besar negara-negara adi daya Eropa dan Amerika, sebagai pemain politik utama dunia di tengah kecamuk politik internasional.

Sangat mudah melihat perilaku politik negara-negara besar melalui berbagai strategi politik intervensi dan invasinya. Ada pola dan intensitas yang berbeda bagaimana negara-negara besar memperlakukan negeri-negeri Muslim di jazirah Arab (Timur Tengah) dengan di Asia terutama Asia Tenggara.

Nampaknya, kekhawatiran Barat dalam konteks ini adalah besarnya pengaruh resonansi konflik Timur Tengah yang bergolak kepada potensi pergolakan yang sama di negara lain termasuk Indonesia. Dan, sebagai sebuah negara yang secara politik, ekonomi, sosial dan budaya sangat bergantung pada negara lain, maka Indonesia memiliki potensi untuk dibuatkan sebuah rumusan intelektual baru.

Caranya, dengan memanfaatkan legitimasi historis, psikologi sosial yang lemah, ketidakberdayaan intelektual, budaya sinkretis, phobia nilai islam yang secara substansial memiliki kepentingan yang sama dan sejalur dengan kepentingan barat bernama Islam Nusantara. Islam ala Indonesia yang berbeda sama sekali dengan Islam negara lain. Namun kompromis dengan barat karena dianggap bertentangan dengan gambaran Islam Radikalis atau Islam Fundamentalis yang direpresentasikan oleh Timur Tengah.

Betapa luar biasanya skenario global terhadap Islam dengan pendekatan adu domba melibatkan kepentingan negara dan kelompok melalui tangan para penguasanya. Parahnya, kelompok-kelompok Islam yang dimanfaatkan itu juga memiliki kepentingan politik pragmatis yang sejalan sehingga mudah diperdaya.

Kampanye Islam Nusantara di tengah arus ‘War On Terrorism’
Di tengah longgarnya interpretasi terhadap sejarah Islam Nusantara (Indonesia), kampanye masif Islam Nusantara nampaknya tidak bisa dipisahkan dengan sejarah panjang “War On Terrorism”. Meski hal itu sengaja ditutup-tutupi agar tidak kelihatan wajah aslinya dan agar mendapatkan tingkat penerimaan yang tinggi.

Dengan memanfaatkan potensi masyarakat berbasis kultur patrimonial terutama di Jawa. Sebuah kultur yang lebih mengedepankan ikatan emosional dengan para kyainya ketimbang ikatan rasional. Potensi psikologi kultur masyarakat seperti itu dimanfaatkan untuk kepentingan-kepentingan politik pragmatis para pemimpinnya. Tak bisa dipungkiri, bahwa rumusan Islam Nusantara adalah metamorfosis dari Islam Moderat yang secara masif dikampanyekan sebelumnya. Agar mendapatkan kesesuaian emosional, sosial dan kultural dengan masyarakat Indonesia maka istilah yang dipandang tepat adalah Islam Nusantara.

Istilah ini lebih menusuk alam bawah sadar masyarakat Indonesia. Meski jika digali secara normatif mengikuti tradisi intelektual salafus shalih akan sangat terbatas narasi yang dibangun. Hanyalah berisi legitimasi historis, sosial, kultural dan politis. Dengan menggunakan pendekatan tafsir kontekstual sebagaimana barat mengembangkan tafsir “hermeneutika”. Hal ini seperti melihat Islam menggunakan kacamata Barat. Layaknya menjelaskan Islam seperti tertuduh penuh rasa bersalah.

Jika mencermati asal muasal Islam Nusantara alias Islam Moderat maka penting melihat kembali sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh seorang mantan Menteri Pertahanan AS, Paul Wolfowitz yang menyatakan, “Untuk memenangkan perjuangan yang lebih dahsyat ini, adalah sebuah kesalahan kalau menganggap kita yang memimpin. Tapi kita harus semaksimal mungkin mendorong suara-suara muslim moderat.” (Siapakah Muslim Moderat?, Suaidi Asy’ari, Ph.D, 2008).

Perbincangan Islam Moderat ini adalah sebuah perjalanan panjang yang terkait dengan pembahasan hangat tentang terorisme, fundamentalisme dan radikalisme. Mereka mendapatkan momentumnya pada peristiwa WTC 9/11 di dunia. Sementara di Indonesia, diawali dengan terjadinya bom Bali diteruskan bom JW Marriot dan Ritz Carlton hingga sekarang dengan keberadaan ISIS.

 
Tiga tahun setelah peristiwa 9/11, Huntington menegaskan perlunya musuh baru bagi Amerika Serikat dan barat. Dan katanya, musuh itu sudah ketemu, yaitu kaum Islam militan. Dalam bukunya, “Who Are We?” (2004), Huntington menempatkan satu sub-bab berjudul “Militant Islam vs America”, yang menekankan, bahwa saat ini, Islam militan telah menggantikan posisi Uni Soviet sebagai musuh utama AS. Setelah itu terjadilah “perburuan Islam militan” atau “Islam radikal”. Mulai dari Usama Bin Laden hingga IS ala ISIS yang dianggap sebagai simbol teroris internasional.

Kerangka masif kampanye Islam Nusantara alias Islam Moderat di berbagai forum dan kesempatan oleh berbagai pihak di bawah komando Jokowi menyisakan pertanyaan besar ada kepentingan besar apa sebenarnya yang ada di baliknya ? Wallahu a’lam bis shawab.



Oleh: Abu Fikri (Aktivis Gerakan Revivalis Indonesia)

 Pimpinan AQL Islamic Center ustadz Bachtiar Nasir mengatakan bahwa dengungan ‘Islam Nusantara’ yang ada di publik saat ini tak lebih dari argumen yang salah niat. Pasalnya, argumen yang dibangun terselip sikap sensitif atas Negara Arab.
Gagasan Islam Nusantara itu salah niat. Salah niat karena suudhzon terhadap negeri Arab,” ucapnya saat ditanya awak wartawan di AQL, Tebet, Jakarta Selatan, Jum’at (12/06/2015).
Ia mengatakan, mungkin saja yang membangun gagasan ‘Islam Nusantara’ ini juga diliputi ketakutan atau kebencian terhadap Negara Arab. Padahal, lanjutnya, arabisasi tidaklah mesti agama Islam.
Dugaan yang ia lontarkan bagi pembenci Negara Arab, ia sarankan agar tidak dilanjutkan. Nabi Muhammad, yang keturunan Arab, tidaklah demikian apa yang dipikirkan “pembenci” Arab.
“Jangan-jangan yang tidak suka dengan Negara Arab terjangkit post-modernisme,” tambahnya.
Ia menghimbau, untuk orang atau oknum yang berargumen mengenai di atas untuk segera bertobat. Agar di kemudian hari tidak menjadi umat penerus Yahudi Israel yang senantiasa membenci keturunan Arab.
“Coba bertobat, agar jangan menjadi penerus umat Yahudi Israel,” tutupnya. (Robigusta Suryanto/voa-islam.com)
Kita tidak akan berbicara tentang siapa yang membawa istilah ‘Islam Nusantara’. Namun kita akan mengungkap kandungan yang terdapat dalam Islam Nusantara.
"Karena ide ini sangat berbahaya, bila ada Islam Nusantara, bisa jadi ke depan itu ada Islam Timur Tengah, Islam Asia, dan istilah-istilah baru lainnya yang semakin memecah belah umat,” ungkap Yuana Ryan Tresna, selaku pembicara dalam acaraLiqo Syawal 1436 H yang diselenggarakan oleh HTI Kota Bandung pada (9/8) di Jl. Soekarno-Hatta No.504 Rumah Makan Cibiuk.
Menurutnya, istilah Islam Nusantara yang digelontorkan memang terdengar manis di telinga masyarakat Indonesia. Namun, ada beberapa kandungan dalam istilah ide tersebut yang harus dikritisi.
...seharusnya Islam sebagai agama yang Rahmatan Lil ‘Alamin seharusnya menjadi penghukum adat yang ada bukan adat yang menghukumi Islam
Pertama, ada kesalahan dugaan/asumsi yang menganggap Islam di timur tengah sebagai Islam yang penuh konflik. Karena itu, perlu ada Islam yang bercorak nusantara yang toleran sehingga tidak terjadi lagi konflik. Padahal konflik itu terjadi bukan karena Islamnya, namun karena adanya penjajahan yang terus dipelihara oleh para penjajah sehingga konflik terus terjadi.
"Kedua, agar ‘Islam Transnasional’ tidak masuk ke dalam Indonesia. ‘Islam Transnasional’ dianggap tidak  sesuai dengan kearifan lokal. Padahal kita tahu bahwa Islam bukan berasal dari Indonesia. Melainkan berasal dari Timur Tengah, Arab. Secara prinsip Islam pun transnasional atau menyebar lintas negara, ujarnya.
"Ketigaadanya upaya penyesuaian Islam terhadap adat atau kearifan lokal. Padahal seharusnya Islam sebagai agama yang Rahmatan Lil ‘Alamin seharusnya menjadi penghukum adat yang ada bukan adat yang menghukumi Islam," pungkasnya [syahid/maruf/voa-islam.com] 
SYIAH DI INDONESIA : Situs-situs Iran melaporkan bahwa pihak berwenang Iran pada Senin (5/2/2018) menahan Hussein al-Shirazi, putra Sadiq al-Shirazi, tokoh Syiah yang terkenal di Qom, karena sebuah ceramah di mana dia menggambarkan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei sebagai “Firaun, lansir Al Arabiya.

Situs berita corong pemerintah Iran menerbitkan salinan surat perintah penangkapan al-Shirazi, dan mengatakan bahwa jaksa agung Qom telah menetapkan bahwa pidato tersebut merupakan kritik terbuka terhadap praktik rezim Iran dan hukum-hukum berasaskan Wilayatul Faqih yang diwariskan Ayatollah Khomeini. Pihak berwenang menangkap Hussein pada Senin pagi.

Menurut sebuah rekaman video yang diunggah di YouTube sebagai bagian dari ceramah yang disampaikan oleh Hussein al-Shirazi beberapa pekan yang lalu, dia membandingkan hukum Wilayatul Faqih dengan peraturan Firaun, yang menjelaskan tirani Iran dan metode penindasannya melawan pengunjuk rasa, pengkritik dan penentang.

Hanya saja, mereka menawarkan gagasan ekstremis yang memicu sektarianisme di wilayah tersebut sehingga dianggap bertentangan dengan prinsip-prinsip intelektual, menurut laporan media Arab tersebut.

Garda Revolusi mulai membatasi pertumbuhan Shirazi setelah Mohammed Shirazi – tokoh ternama keluarga Shirazi – mendukung gagasan Dewan Syura sebagai pengganti aturan absolut wilayatul Faqih setelah meninggalkanya Khomeini.

Al-Shirazi juga menentang fatwa Khamenei terkait larangan menebas kepala dengan pedang seperti yang dilakukan oleh beberapa orang selama upacara asyura.

Setelah penentangan ini, al-Shirazi dibungkam, pengaruhnya dibatasi dan dia menjalani tahanan rumah sampai kematiannya pada tahun 2001. Arrahmah.com
KESESATAN SYIAH : Rakyat di berbagai kota di Iran menjadi saksi demonstrasi besar-besaran di beberapa hari terakhir. Protes menyuarakan berbagai keadaan ekonomi, politik, dan sosial di Iran, termasuk “kemiskinan, pengangguran” di negara tersebut, tanpa ditujukan dari dan kepada politisi atau kelompok politik tertentu.

Demonstrasi Iran ini dimulai di Mashhad, kota terbesar kedua di Iran dan salah satu kota agamis dan spiritual negara tersebut. Dari Mashhad, protes menyebar ke Nishapur, Shahrud, Kermenshah, Qom, Rasht, Yazd, Qazvin, Zahedan, Ahvaz, dan kota-kota lainnya. Kemarin, para mahasiswa Universitas Teheran meneriakkan slogan-slogan protes dari halaman kampus.

Korban perusahaan yang bangkrut

Sesungguhnya, demo-demo ini tak muncul dengan sendirinya. Setahun ini, para korban yang kehilangan uang investasi mereka di perusahaan-perusahaan keuangan yang bangkrut – jumlahnya sekitar 6.000 orang – khususnya di Teheran dan beberapa kota lain, telah mengorganisasi demo kecil-kecilan dan menyuarakan protes mereka dengan slogan-slogan bernada keras.

Diperkirakan ada beberapa juta orang di Iran yang melakukan demo-demo sporadis seperti ini. Negara dan pemerintah baru turun tangan ketika demonstrasi meluas.

Partisipasi si miskin dan oposisi

Masyarakat biasa adalah peserta mayoritas dalam demonstrasi baru-baru ini. Namun, kali ini segmen masyarakat miskin dan kelompok politik oposisi sepertinya mulai ikut-ikutan.

Tuntutan utama dalam demo ini adalah kondisi kehidupan di negara tersebut, termasuk soal kemiskinan, pengangguran, konsentrasi kebijakan ekonomi dan luar negeri Iran, yang pada akhirnya menyibak hubungan antara ketiga kelompok ini.

Slogan-slogan protes

Slogan-slogan yang digunakan oleh para pedemo, antara lain: “Jangan habiskan uang kami di Suriah, Gaza, dan Lebanon”, “Rakyat miskin seperti pengemis” dan “mereka yang melihat Reza Shah Pahlevi sebagai simbol modernisasi negara tersebut mendoakannya”.

Slogan yang lain juga termasuk: “Tinggalkan Suriah dan lihatlah kondisi kami”, “Bukan Gaza, atau Lebanon, hidupku untuk Iran”, “Hezbollah terkutuk”, “Kami tidak ingin republik Islam”, “Republik Iran yang merdeka dan bebas”, dan “Rakyat mulai mengemis”.

Tak diragukan lagi, otoritas dari dua sayap politik di Iran mengharapkan insiden meledak, menurut bocoran informasi dari institusi intelijen dan keamanan mereka. Meski begitu, mereka memilih untuk tak mengganggu protes masyarakat dan mengizinkan mereka menyuarakan ketidakpuasan mereka akan kondisi ekonomi.

Demonstrasi bisa menyebar

Nasib para korban investasi masih tak jelas karena perusahaan keuangan yang – nyaris seluruhnya milik golongan konservatif – telah dinyatakan bangkrut.

Pemerintah hanya mau membayarkan utang-utang milik perusahaan “Caspian” dan “Alborz” yang sebelumnya mendapatkan jaminan dari Bank Sentral Iran. Kegagalan pemerintah untuk menutup utang perusahaan-perusahaan lain yang bangkrut mengancam demonstrasi untuk menyebar.

Jika utang-utang itu dibayar dengan uang negara, maka masyarakat dari kelompok yang tak berinvestasi bisa timbul. Di sisi lain, jelas pemerintah tak bisa membayar semua uang masyarakat karena pemerintah pun sedang mengalami keterbatasan sumber daya keuangan.

Pasukan keamanan bertahan

Banyak skenario yang membahas siapa di balik demonstrasi ini. Pasalnya, unjuk rasa turun ke jalan di Iran hanya bisa dilakukan setelah mendapatkan izin tertulis dari pasukan keamanan Kementerian Dalam Negeri dan pemimpin Iran.

Meskipun pemerintah telah mengumumkan unjuk rasa ini “tidak berizin dan ilegal”, pasukan keamanan dari polisi maupun Garda Revolusi Islam sama sekali tidak mencampuri proses demonstrasi. Mengingat bahwa demonstrasi juga telah berlangsung selama beberapa hari, bisa dipastikan bahwa tidak ada “penangkapan acak” yang dilakukan.

Reformis dan konservatif jadi target

Pada unjuk rasa kali ini, berlawanan dengan yang sebelumnya terjadi, terutama pada peristiwa Hasutan (sedition) pada 2009 yang menaikkan kelompok sayap reformis di Iran, sekarang baik kelompok reformis maupun konservatif menjadi target pedemo. Kenyataan ini sempat membuat kaget otoritas dari kedua sayap, pun demikian para komentator politik.

Meski demikian, demonstrasi ini telah meraih dimensi politis, dan berubah menjadi panggung yang tak disangka-sangka oleh otoritas. Untuk alasan ini, dengan menyebarnya demonstrasi ke seluruh penjuru negeri, kedua sayap pemerintahan dan konservatif saling menyalahkan, dan mengaku tak terkait dengan insiden yang terjadi.

Pernyataan bertolak belakang

Wakil Presiden Pertama Iran Eshaq Jihangiri di akhir pekan ini beerkata: “Permasalahan ekonomi digunakan sebagai alasan sementara sesuatu yang lain, di balik tirai, sedang berlangsung.”

The Iran – harian milik pemerintahan Hassan Rouhani – juga berkata dalam artikel yang dicetak di halaman utama kemarin: “Beberapa orang berpikir publik adalah mainan yang bisa digunakan untuk mencapai keinginan pribadi.”

Di sisi oposisi, Imam Salat Jumat di Teheran dalam khotbah pekan lalu berkata: “Kita tak boleh membiarkan ruang sosial kosong sehingga benak orang-orang tidak diracuni dan buram karena kata-kata yang tak seimbang.”

Hossein Shariatmadari, salah satu politisi dari sayap konservatif dan pemimpin koran Keyhan yang berkaitan dengan Pemimpin Agung berkata: “Penderitaan orang-orang karena mata pencaharian, adalah hasutan baru para pembuat onar.”

Pasukan Garda Revolusi juga berkata: “Beberapa kelompok menginginkan peristiwa hasutan baru.”

Mentor dari Presiden Rouhani, seperti spesialis hubungan internasional dan politik Ferzane Rustayi, percaya bahwa demonstrasi berasal dari oposisi yang mencoba mempublikasikan keberatan-keberatan mereka.

Mereka melihat kegagalan Rouhani untuk menolak intervensi rezim Iran di Yaman dan penunjukan menteri wanita Sunni di kabinet, juga kebungkamannya soal penangkapan rumah pemimpin oposisi Mehdi Karroubi dan Mir-Hossein Mousayi sebagai alasan. Secara singkat, kita bisa menyebut demonstrasi ini sebagai “penyesalan pemberi suara kepada Rouhani”.

Berbagai insiden yang telah terjadi di Iran sejak 20-30 tahun belakangan menunjukkan bahwa tak satu pun unjuk rasa ini – baik yang berhubungan dengan kondisi sosial ekonomi, hak asasi wanita, maupun soal alam – bisa dicegah menabrak dimensi politik.

Akhirnya, bisa dikatakan bahwa kedekatan sayap reformis dengan konservatif, yang berakhir di masa kepresidenan Hassan Rouhani, membawa serta keberatan politis dari masyarakat kepada kedua sayap tersebut.