Articles by "KARBALA"
Showing posts with label KARBALA. Show all posts
Politisasi Karbala?
Cover buku مَأْسَاةُ كَرْبَلاَءَ [Tragedi Karbala]

Oleh: Mahmud Budi Setiawan
APA yang terlintas di benak anda ketika disebut kata, ‘Karbala’? Bagi yang mengerti pasti akan mengingat satu sosok bersejarah bernama Husain bin Ali bin Abi Thalib. Ia merupakan adik kandung Hasan bin Ali. Meskipun keduanya sama-sama disaksikan Rasulullah sebagai pemimpin pemuda ahli surga, namun keduanya memiliki karakter yang berbeda. Kejadian di Karbala menyiratkan akan makna penting bahwa kecendrungan perjuangan Husain ialah melalui jalur politik dan kekuasaan. Sedangkan Hasan -yang sifat dan bentuk fisiknya digambarkan dalam suatu riwayat paling mirip dengan Rasulullah- sama sekali memiliki sikap dan kecendrungan yang berbeda dengan adiknya, Ia lebih melalui jalur lain selain politik. Karakter bawaan yang lebih menyukai perdamaian, membuatnya terabadikan dalam sejarah sebagai tokoh kunci yang sudah jauh-jauh hari diramalkan oleh Rasulullah sebagai pendamai kaum muslimin yang lagi bertikai, tepatnya hari itu diabadikan dengan nama yaumul jamaa`ah(hari bersatunya kaum muslimin di bawah naungan satu penguasa pada tahun 41 Hijriah).
Sedangkan Husain yang lebih ngotot dengan ijtihad pribadinya untuk tetap menentang kekuasaan melalui jalur politik harus akhirnya menemui takdir meninggal di bumi Karbala`. Ironisnya kebanyakan kaum muslim lebih  menokohkan Husain. Kalangan Syiah bahkan secara khusus memperingati gugurnya Husain pada tanggal 10 Muharram. Kisah kakak beradik ini diterangkan sedemikian rupa oleh penulis melalui rujukan-rujukan yang bisa dipertanggungjawabkan dari buku-buku sejarah yang pada intinya perjuangan melalui jalur politik dan kekuasaan hanya akan menjadi malapetaka bagi umat Islam jika itu dijadikan tumpuan utama. Padahal masih banyak ranah lain untuk memperjuangkan Islam.
Buku ini ditulis oleh  Wahidudin Khan. Lahir di India pada tanggal 10 Oktober 1925m Wahidudin merupakan pemikir Muslim India kontemporer.  Ia memiliki pemikiran yang berusaha mengharmonikan sistem salafi dengan sistem ilmiah dan filosofis. Dengan metode ini, ia berusaha berdialog dengan orang-orang Atheis dan sekular pada sejumlah besar dari karangannya. Karangannya  menggabungkan antara kesederhanaan dan kedalaman sehingga (senantiasa) relevan dengan berbagai macam pembaca.
Ia sangat terkesan dengan pemikiran Abu A`la Al-Al-Maududi dan Abu Hasan An-Nadawi. Ia telah mengarang banyak buku. Di antaranya dalam berbahasa Inggris: “Religion and Science, God Arises: Evidence of God in Nature & Science, In Search of God, Islam and Modern Challenges, The Way to Find God, The Quran, an abiding wonder, The Moral Vision: Islamic Ethics for Success in Life, Women Between Islam and Western Society, A Treasury Of The Qur’an, The Prophet Muhammad : A Simple Guide to His Life, ISLAM: THE VOICE OF HUMAN NATURE, Islam and the Modern Man, ISLAM: CREATOR OF THE MODERN AGE, Islam As It Is, A Treasury Of The Qur’an”
Ada juga yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab diantaranya: “Al-Islam Yatahadda, Ad-Din Fi Muwaajahati al-`Ilmi, Hikmah ad-Din, Tajdid `Ulumu ad-Din, Al-Muslimun baina al-Maadhi wa al-Hadhir wa al-Mustaqbal dan Khawathir wa al-`Ibar serta buku yang sedang diresensi saat ini yaitu Tarikhu ad-Dakwah Ila al-Islam.


Baca artikel  selengkapnya di KESESATAN SYIAH  tafhadol
Di awal pembahasan penulis menjelaskan bahwa: Hasan dan Husain merupakan tipikal yang merepresentasikan dua orientasi bertentangan dalam sejarah Islam.
Hasan orientasinya bukan pada politik, sedangkan Husain mempunyai orientasi politik. Hasan memilih damai dengan Mu`awiyah dalam peristiwa Aamul Jamaa`ah tahun 41 H. Sedangkan Husain lebih memilih konflik secara frontal dengan Mu`awiyah.
Keputusan Hasan melahirkan perdamaian di kalangan muslimin dan meredam potensi perang saudara. Sedangkan keputusan Husain mengantarkannya pada kematian di Karbala`.
Meskipun peristiwa Karbala` sangat populer, namun sayangnya sama sekali tidak sesuai dengan ajaran-ajaran Islam dan peristiwa sejarah. Ajaran Islam dan peristiwa sejarah sama-sama menolak contoh (peristiwa) semacam ini.
Sebelum datangnya Islam di Makkah ada dua kabilah Qurays yang sangat istimewa yaitu Klan Abdi Manaf (Klan Hasyim) dan Klan Umayyah. Kedua kabilah ini sejak sebelum Islam sudah saling bersaingan. Klan Umayyah tak mampu mengungguli klan Hasyim, bahkan masuk Islam ketika tahun 8 Hijriah.
Ketika masa khulafaurasyidin Masa Khalifah Utsman dianggap sebagai yang mewakili klan Umayyah sedangkan masa Ali mewakili Klan Hasyim. Setelah Ali meninggal diganti Hasan. Tahun 41 H Hasan memilih damai dan menyerahkan kekuasaan ke Muawiyah. Praktis 20 tahun kondisi kaum Muslimin aman dan bisa memperluas wilayah di bawah pimpinan Mu`awiyah (W 60 H).
Sepeninggal Mu`awiyah konflik kekuasaan dimulai kembali. Husain tak mau bersikap seperti saudaranya, ia memilih menentang pemerintahan resmi. Dari sinilah titik tolak terjadinya tragedi 10 Muharram di Karbala` di mana Husain beserta pengikutnya yang tinggal 72 orang harus melawan pasukan bersenjata lengakap kiriman Yazid bin Muaawiyah yang berjumplah hampir 72 ribu pasukan.
Sebenarnya waktu itu Husain mau berdamai dengan menyampaikan tiga opsi, namun karena Ubaidillah bin Ziyad dihasut oleh Syarmadzi Al-Jausyan, akhirnya pembunuhan Husain pun tak terelakkan.
Pengganti Muawiyah ialah Yazid bin Muawiyah, ketika diangkat menjadi pengganti ayahnya ia langsung mengirim Walid bin `Utbah bin Abi Sufyan untuk mengambil baiat di Madinah. Husain menolak. Pada hari kedua beserta keluarganya pergi ke Makkah.  Karena Makkah tak memungkinkan untuk menjadi khalifah lantaran ada khalifah Abdullah bin Zubair maka dari itu Husain pergi Kufah. Sedangkan Hasan, setelah melepas diri dari kekuasaan Ia kembali ke kampung halamannya, Madinah. Husain ke Kufah karena disurati penduduk Kufah yang ingin mendukung menjadikannya khalifah.
Surat yang sampai kepada Husain kala itu hampir mencapai 150 surat. Hasan sudah menasehati Husain sedemikian rupa untuk tak pergi, namun Husain bersi keras: karena menurut Hasan tak mungkin kabilah kita memegang kenabian dan khilafa sekaligus. Muslim bin `Aqil bin Abu Thalib dikirim ke Kufah untuk mengambil baiat dan di sana didukung 18 ribu pendukung.
Ketika Yazid mendengar pergerakan Muslim bin `Aqil, ia mengirim Ubaidillah bin Ziyaad untuk meredam pemberontakan, akhirnya Muslim dan penjamunya, Hani` bin `Urwah kemudian dibunuh di atap rumah hingga kepalanya tanggal di hadapan semua orang yang mendukungnya.
Kala itu Abdullah bin Muthi` mengingatkan Husain: “Aku ingatkan padamu agar kembali ke Makkah, jika kamu tetap bersi keras untuk mendapat kekuasaan klan Umayyah, mereka akan membunuhmu, dan jika mereka membunuhmu, maka mereka tidak akan takut pada siapapun setelahmu selamanya. Kehormatan Islam dan Arab akan terenggut”.
Husain tetap ngotot pergi. Bahkan tak mempedulikan anjuran sahabat besar seperti Abdullah bin Umar bin Khathab, Abdullah bin Abbas, Amru bin Sa`ad bin Ash, Abdurrahman bin Harits. Bahkan Abdullah bin Zubair sempat menawarkan, jika Husain tak jadi ke Kufah maka Ia siap untuk membaiatnya di Makkah. Abdullah bin Ja`far bin Abi Thalib juga mendesak Husain agar tak pergi ke Kufah tapi tak membuahkan hasil.
Dalam perjalanannya Husain ketemu dengan penyair Farzadiq, lalu menanyakan kondisi Kufah. Farzadiq mengingatkan Husain: ‘hati orang Kufah bersamamu tapi pedangnya bersama klan bani Umayyah’. Pada akhirnya usaha Husain malah mengantarkan pada kegagalan yang sangat mengharukan dalam lembaran sejarah. Cucu Nabi ini meninggal di Karbala.
Setelah memaparkan secara singkat kilas balik sejarah tragedi Karbala, penulis menyatakan: “Seandainya kita mau mencalonkan dua pahlawan Islam antara Hasan dan Husain maka Hasan lebih pantas. Di sisi lain anjuran Nabi ketika terjadi fitnah supaya kaum Muslimin menjauhi konflik politik kekuasaan dan bergerak di ranah lain yang bermanfaat. Selama tak dilarang untuk shalat maka tetap sabar dengan kezaliman penguasa. Meski tetap memberi nasihat. Bukan berarti Nabi mengajarkan umatnya membisu di hadapan penguasa zalim tetapi sebagai semacam pencerahan untuk (fokus) mengarah pada amal serius dan dalam jangkauannya.
Pengalaman abad pertama Hijriah secara tegas memberikan pelajaran penting bahwa bentrok dengan sistem politik yang sedang berkuasa, seberapa ikhlaspun niatnya, hanya akan mengobarkan api fitnah, bahkan menciptakan masalah-masalah baru, menjadikan masalah semakin rumit dan kompleks.
Apa yang terjadi sepeninggal Utsman ternyata terus berlangsung sampai hingga pada masa Mu`awiyah dan seterusnya. Perang yang terjadi untuk mendapat kekuasaan tidak berakhir pada hasil yang pasti. Memang konflik berhenti dari dua kelompok yang berselisih, namun setelah konflik berakhir, maka terjadi konflik pula di tubuh internal kelompok masing-masing.
Buku ini secara ringkas ingin menyatakan bahwa keterlibatan kaum Muslimin dalam ranah politik dan kekuasaan acapkali –kalau tak boleh dikatakan pasti– mengalami kegagalan. Sejarah telah membuktikan. Supaya tenaga dan potensi umat tak terbuang percuma, penulis menyarankan umat Islam berjuang pada ranah lain sesuai potensi masing-masing. Sebab dengan tidak hanya terlalu fokus dengan politikuntuk menghasilkan sesuatu yang lebih besar dan bermanfaat.
Sebab tabiat politik ialah persaingan. Dan sejarah membuktikan ketika kaum Muslimin terlibat pada persaingan politik, ujungnya akan menghadapi perpecahan saudara.
Buku ini cocok dibaca oleh aktivis gerakan Islam atau siapa saja yang ingin mengetahui lebih jauh tentang sekilas sejarah tentang orientasi umat Islam ke ranah politik dan apa akibat-akibat yang akan dialaminya. Dengan membaca buku ini, mengingatkan kita berhati-hati dalam perjuangan bidang politik dan kekuasaan. Andai tetap berjuang pada jalur ini ini, minimal harus ekstra berhati-hati.*
Judul Buku                  : مَأْسَاةُ كَرْبَلاَءَ [Ma`saatu Karbalaa`]
Arti Judul                    : Tragedi Karbala`
Pengarang                   : Wahidudin Khan
Penerbit                       : ar-Risaalah li al-I`laan al-Dauli, Kairo
Tebal Buku                 : 59 Halaman
Penulis adalah peserta PKU VIII UNIDA Gontor 201
4
Apabila membicarakan tentang Hari Ashura yang jatuh pada tanggal 10 Muharam setiap tahun maka kita tidak dapat menghindarkan diri dari membicarakan tentang peristiwa Karbala yang begitu menyayat hati. Peristiwa tersebut merupakan kisah di mana Saidina Hussain r.h yang merupakan cucunda Rasulullah s.a.w dan juga anak Saidina Ali r.h telah dibunuh dengan kejam di sebuah tempat yang bernama Karbala di Iraq. Rentetan dari peristiwa ini terdapat upacara-upacara khusus yang diadakan pada Hari Asyura dengan cara yang amat bertentangan dengan syarak. Malah kelompok Syiah juga telah mempergunakan peristiwa Karbala ini demi untuk meraih simpati umat Islam kepada kelompok mereka seolah-olah mereka ingin menggambarkan bahwa merekalah satu-satunya kelompok yang membela Ahlul Bait (keluarga Rasulullah).
Baca artikel  selengkapnya di KESESATAN SYIAH  tafhadol
Melalui makalah ini penulis akan membentangkan kisah yang sebenar disebalik pembunuhan Saidina Hussain di Karbala, apakah amalan-amalan yang bertentangan dengan syarak ketika sambutan Hari Asyura serta apakah sunnah-sunnah Nabi s.a.w. berkaitan dengan Hari Asyura.
PERISTIWA KARBALA
Apabila Mu’wiyyah r.a meninggal dunia maka anaknya Yazid bin Mu’awiyyah r.h telah diangkat menjadi penggantinya. Perlantikan Yazid ini telah disetujui [bai’ah] oleh mayoritas para sahabat Nabi yang masih hidup termasuk para Ahlul Bait serta masyarakat Islam. Namun begitu penduduk Kufah yang rata-rata berfahaman Syiah telah menolak kepimpinan Yazid dan ingin melantik Saidina Hussain sebagai khalifah yang baru.
Lalu penduduk Kufah termasuk tokoh-tokoh Syiah menulis surat kepada Saidina Hussain mengundang beliau ke Kufah untuk tujuan tersebut. Mereka bukan sekadar berjanji akan taat setia kepada kepimpinan Saidina Hussain malah mereka sanggup untuk menghunus senjata demi membela beliau serta menjatuhkan kerajaan Bani Umaiyah pimpinan Khalifah Yazid. Mendengarkan dukungan yang padu dari penduduk Kufah maka beliau mengutuskan Muslim bin ‘Aqil untuk meninjau keadaan sebenar di Kufah.
Saidina Hussain menyebarkan berita ini serta niat beliau untuk ke Kufah kepada para sahabat serta anggota keluarga beliau bagi mendengar pandangan mereka. Namun demikian para sahabat terkemuka serta anggota keluarganya seperti ‘Abdullah Ibnu Abbas, Muhammad bin al-Hanafiyah, ‘Abdul Rahman bin Hisyam al-Makhzumi, ‘Abdullah bin Jaafar bin Abi Talib, Abdullah bin Muti’ al-Afdawi, ‘Amru bin Sa’id, ‘Abdullah bin ‘Umar, Abu Sa’id al-Khudri dan lain-lain telah menentang niat Saidina Hussain tersebut. Mari kita lihat beberapa ungkapan kata-kata mereka terhadap Saidina Hussain.
‘Abdullah bin Abbas r.a berkata:
“Wahai sepupuku bagaimana anda boleh bersabar sedangkan saya tidak boleh bersabar. Saya bimbang anda akan binasa jika anda meneruskan hasrat anda itu. Penduduk Iraq adalah orang-orang yang suka memungkiri janji. Janganlah anda terpedaya dengan pujukan mereka.” (Dinukil dari buku Kesalahan-Kesalahan Terhadap Fakta-Fakta Sejarah Yang Perlu Diperbetulkan Semula karya Prof. Dr. Ibrahim Ali Sya’wat, diterjemahkan oleh Dr Basri Ibrahim, terbitan Jahabersa, cetakan 2005 Kuala Lumpur, ms. 208.)
‘Abdullah bin Jaafar bin Abi Talib pernah menulis kepada Saidina Hussain sepucuk surat. Antara isi surat tersebut ialah:
“Saya sangat mengharapkan agar anda benar-benar merenung isi kandungan surat ini. Saya sebenarnya amat kasihan dengan anda kerana bimbang kalau-kalau anda akan binasa dan keluarga anda pula akan terhapus. Jika sekiranya anda binasa hari ini, akan padamlah cahaya bumi. Anda adalah salah seorang tokoh yang menjadi ikutan masyarakat dan harapan orang-orang mukmin. Janganlah anda tergesa-gesa bertolak ke Iraq.” (Di nukil dari buku Kesalahan-Kesalahan Terhadap Fakta-Fakta Sejarah Yang Perlu Diperbetulkan Semula karya Prof. Dr. Ibrahim Ali Sya’wat, ms. 209.)
‘Abdullah bin Jaafar bukan sekadar mengirim surat bertujuan untuk menghalangi Saidina Hussain dari meneruskan rancangannya untuk ke Kufah, malah beliau juga telah meminta ‘Amru bin Sa’id, Gubernur Khalifah Yazid di Makkah untuk membujuk Saidina Hussain agar membatalkan hasratnya tersebut. Namun begitu Saidina Hussain tetap berkeras untuk berangkat ke Kufah. Mungkin timbul persoalan di benak hati para pembaca tentang kenapa para sahabat serta ahli keluarganya menentang niat beliau untuk ke Kufah. Maka di sini penulis beberkan beberapa sebab berkaitan dengan tentangan tersebut:
1) Mereka dapat mencium tipu daya golongan Syiah di Kufah yang memang terkenal dengan pengkhianatan mereka terhadap Umat Islam. Mereka inilah kelompok yang telah mendukung ‘Abdullah Ibnu Saba’, dan terlibat dalam pembunuhan ‘Uthman bin ‘Affan r.a, mengkhianati Saidina ‘Ali serta abang Saidina Hussain yakni Saidina Hassan r.a. Mereka berpandangan dukungan kuat yang menurut khabarnya datang dari penduduk Kufah hanyalah palsu dan tindakan mereka ini merupakan dalih mereka untuk menimbulkan susana kacau-balau di dalam masyarakat Islam.
2) Yazid bin Mu’awiyyah adalah seorang khalifah yang telah dibai’ah oleh majoriti umat Islam, dikalangan para sahabat-sahabat utama dan juga anggota keluarga Rasulullah s.a.w.. Maka dari sisi syarak perlantikan beliau sebagai khalifah adalah sah. Terdapat larangan dari Rasulullah s.a.w. untuk memberontak terhadap pemerintah yang telah dilantik umat Islam secara sah.
Ada pula yang beranggapan bahwa Khalifah Yazid tidak memiliki ciri-ciri kepimpinan yang baik serta beberapa tuduhan tentang sifat-sifat buruk juga telah dilemparkan terhadapnya. Jika tuduhan ini benar sekalipun Rasulullah s.a.w. telah memerintahkan umatnya untuk tetap taat kepada pemerintah yang pada zahirnya masih Islam walaupun dia seorang yang zalim. Sabda Rasulullah s.a.w:
Pemimpin yang baik ialah pemimpin yang kamu cintai mereka dan mereka mencintai kamu. Kamu mendoakan mereka, mereka pula mendoakan kamu. Pemimpin yang jahat ialah pemimpin yang kamu membenci mereka, mereka juga membenci kamu dan kamu melaknat mereka, mereka juga melaknat kamu.
Baginda ditanya: “Tidak bolehkah kami perangi mereka dengan pedang?”
Jawab Baginda: “Tidak, selagi mana mereka mendirikan solat. Ingatlah, sesiapa yang dikuasai penguasa, lalu dia dapati penguasa itu melakukan maksiat kepada ALLAH, dia hendaklah membenci maksiat tersebut namun jangan mencabut tangan dari ketaatan.” – Hadis riwayat Imam Muslim no. 1855.
Oleh itu mereka menentang niat Saidina Hussain untuk menyertai malah mengepalai pemberontakan penduduk Kufah tersebut
3) Mereka juga khawatir tindakan Saidina Hussain ini akan menimbulkan pertumpahan darah sesama umat Islam dan akan melemahkan persatuan umat.
4) Mereka bimbang akan keselamatan Saidina Hussain dan anggota keluarganya yang berkemungkinan akan dkhianati oleh penduduk Kufah atau diserang oleh tentera Khalifah Yazid.
Ternyata bujuk rayu mereka gagal untuk menghentikan hasrat beliau untuk ke Kufah. Kenapa agaknya Saidina Hussain tetap berkeras untuk ke Kufah? Jawaban Saidina Hussain adalah seperti berikut:
Saya telah bermimpi bertemu dengan Rasulullah s.a.w. dan saya telah melakukan sesuatu yang telah ditentukan kepada saya tanpa mengira ia mendatangkan keburukan kepada diri saya atau memberikan keuntungan kepada saya.
Lalu ‘Abdullah bin Yahya berkata: Apakah mimpi anda itu?
Jawab al-Hussain: Saya tidak dapat menceritakannya kepada seseorangpun, malah saya tidak boleh memberitahu kepada seseorangpun sehingga saya bertemu dengan Tuhan saya – Rujuk Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jilid 4, ms. 388.
Penulis nukil dari buku Kesalahan-Kesalahan Terhadap Fakta-Fakta Sejarah Yang Perlu Diperbetulkan Semula, ms. 270.
Sebenarnya sikap Saidina Hussain ini memiliki persamaan dengan ‘Uthman bin Affan. Ketika rumah ‘Uthman dikepung oleh para pemberontak, para sahabat serta umat Islam telah menawarkan bantuan untuk menghancurkan kepungan tersebut. Namun ‘Uthman menolak penawaran tersebut demi untuk mengelak pertumpahan darah sesama umat Islam. Namun demikian motivasi sebenar ‘Uthman adalah hadis Rasulullah s.a.w yang mengabarkan bahwa beliau akan mati syahid.
Dari Qatadah, bahawa Anas r.a menceritakan kepada mereka, dia berkata: Nabi s.a.w. mendaki gunung Uhud bersama Abu Bakar, ‘Umar, serta ‘Uthman. Tiba-tiba Uhud bergoncang. Baginda bersabda: Tenanglah wahai Uhud – aku kira baginda memukulnya dengan kakinya – tak ada di atas mu kecuali seorang Nabi, Shiddiq dan dua syahid. – Hadis riwayat Imam al-Bukhari, no: 3697.
Ternyata al-Shiddiq itu gelaran bagi Abu Bakar r.a manakala ‘Umar telah syahid ketika menjadi khalifah, maka ‘Uthman berpendapat bahawa seorang lagi yang bakal syahid menurut sabda Rasulullah s.a.w. tersebut adalah beliau sendiri. Itulah sebabnya ketika pemberontak menyerbu rumah ‘Uthman, beliau tetap menghalang para sahabat yang ada di situ untuk membantunya lalu berkata:
Saya bersabar menghadapi janji yang telah dijanjikan oleh Rasulullah s.a.w. kepada saya. Saya akan berhadapan dengan kematian saya sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Allah S.W.T.. – rujuk Tarikh al-Umam wa al-Muluk karya Imam al-Tabari, ms. 391-392. (Penulis nukil dari buku Kesalahan-Kesalahan Terhadap Fakta-Fakta Sejarah Yang Perlu Diperbetulkan Semula, ms. 265.)
Malah al-Tabari juga melaporkan bahawa ‘Uthman tidak menghalang pemberontak untuk membunuhnya kerana:
Uthman telah bermimpi pada malam kejadian, Nabi s.a.w. datang menemuinya dan berkata kepadanya: Saya harap anda dapat berbuka bersama dengan kami pada malam ini. – Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jilid 4. ms. 383. (Penulis nukil dari buku Kesalahan-Kesalahan Terhadap Fakta-Fakta Sejarah Yang Perlu Diperbetulkan Semula, ms. 265.)
Tentang syahidnya ‘Uthman dan Saidina Hussain maka Prof. Dr Ali Sya’wat berkata:
Tidakkah pembaca bersama dengan penulis yang pendirian yang diambil oleh al-Hussain adalah sama dengan pendirian yang diambil oleh ‘Uthman bin ‘Affan? Keduanya melihat kematian sebagai sesuatu yang sudah pasti berada dihadapannya. Keduanya juga telah dinasihati oleh keseluruhan orang-orang yang ikhlas yang berada disamping mereka. (Rujuk buku Kesalahan-Kesalahan Terhadap Fakta-Fakta Sejarah Yang Perlu Diperbetulkan Semula, ms. 271.)
Apabila mendengar pergerakan rombongan Saidina Hussain ke Kufah maka Yazid memerintahkan gubernur beliau di Basrah iaitu Ubaidullah bin Ziyad serta tenteranya untuk berangkat ke Kufah bagi memantau pergerakan Saidina Hussain serta kebangkitan orang-orang Kufah. Tindakan Yazid bukanlah sesuatu yang sukar untuk difahami bagi mereka yang arif dalam bidang politik. Mana-mana pemimpin pasti akan berwaspada sekiranya terdapat isu-isu bahwa pemberontakan bakal terjadi dan ianya bukan saja boleh menggugat tampuk pemerintahannya malah akan menggugat kestabilan politik umat Islam pada masa itu.
Harus kita semua fahami bahawa perintah dari Yazid hanyalah untuk memantau atau memerhatikan sahaja pergerakan Saidina Husain dan penduduk Kufah tersebut dan tindakan hanya perlu diambil sekiranya mereka terlebih dahulu memulakan serangan. Berikut merupakan pesanan Yazid kepada Ubaidullah bin Ziyad:
Saya mendapat tahu bahwa Hussain telah menuju ke Iraq. Oleh itu berkawallah di kawasan-kawasan perbatasan negeri. Siapa saja yang diragui, tahanlah dia dan sesiapa yang tertuduh tangkaplah dia. Tetapi jangan engkau perangi kecuali orang yang memerangi mu dan tulislah selalu kepada ku tentang apa yang berlaku. – Al-Bidayah Wa al-Nihayah, jilid 8, ms. 165. ( Dinukil dari artikel Syiah Pembunuh Sayyidina Hussain di Karbala yang ditulis oleh Mawlana Muhammad Asri Yusoff.)
Di dalam riwayat yang lain Yazid telah berkata:
Adapun Hussain bin ‘Ali maka penduduk Iraq sekali-kali tidak akan melepaskannya sehinggalah mereka mengeluarkannya untuk memberontak. Maka sekiranya dia keluar memberontak terhadapmu dan engkau dapat menangkapnya maka maafkanlah dia kerana beliau mempunyai pertalian rahim yang sangat hampir dengan kita dan juga mempunyai hak yang sangat besar. – Tarikh al-Umam wa al-Muluk, jilid 4, ms. 238. (Dinukil dari artikel Syiah Pembunuh Sayyidina Hussain di Karbala.)
Oleh itu siapa sebenarnya yang membunuh Saidina Hussain? Maka terdapat dua riwayat tentang peristiwa di Karbala ini.
VERSI PERTAMA: Ubaidillah bin Ziyad telah bertindak berlebihan dari arahan sebenar Yazid lalu menyerang Saidina Hussain dan rombongannya di Karbala. Tindakan Ubaidillah bin Ziyad hanyalah bertujuan untuk menunjukkan kehebatannya serta menjilat khalifah. Apa yang mengherankan adalah tindakan penduduk Kufah yang kononnya sanggup untuk berkorban jiwa dan raga untuk mengangkat Saidina Hussain sebagai Khalifah serta menjatuhkan Yazid telah melarikan diri apabila melihat kemaraan tentera Ubaidillah bin Ziyad.
Maka terpaksalah Saidina Hussain dan rombongannya yang hanya berjumlah sekitar 70 orang berhadapan dengan tentera Ubaidillah yang jauh lebih besar jumlahnya dari mereka. Kemana pergi penduduk Kufah yang dikatakan terdapat sejumlah 12,000 orang yang telah bersiap sedia untuk menerima Saidina Hussain? Sekiranya 12,000 penduduk Kufah yang jumlah tersebut sebenarnya adalah jauh lebih besar dari tentera Ubaidillah mempertahankan Saidina Hussain kemungkinan besar tentera Ubaidillah akan dapat dikalahkan.
Namun demikian ini hanya membuktikan bahawa penduduk Kufah memang pada asalnya tidak memiliki niat untuk menaikkan Saidina Hussain sebagai Khalifah. Perkara ini sebenarnya adalah sebagian dari agenda kelompok Syiah untuk menimbulkan fitnah di kalangan umat Islam iaitu dengan mengadu domba Saidina Hussain dengan Yazid.
VERSI KEDUA: Ubaidillah bin Hussain sebenarnya mematuhi arahan Yazid dan tidak melancarkan serangan tersebut. Wakil Saidina Hussain di Kufah iaitu Muslim bin ‘Aqil telah mencium konspirasi yang sedang dirancang oleh penduduk Syi’ah di sana. Sebelum Muslim dibunuh oleh penduduk Kufah beliau sempat mengutus ‘Umar bin Saad bin Abi Waqqas kepada Saidina Hussain yang semakin dekat ke bandar Kufah tentang kecurangan golongan Syi’ah. Maka Saidina Hussain membatalkan hasratnya untuk ke Kufah dan mengubah laluan rombongannya menuju ke Syam untuk menemui Yazid. Ini jelas menunjukkan bahwa Saidina Hussain telah meninggalkan niat asalnya untuk memberontak terhadap Yazid dan telah menunjukkan kesediannya untuk membai’ah Yazid.
Golongan Syi’ah di Kufah mula panik dengan perubahan arah tersebut kerana sekiranya Saidina Hussain berbai’ah kepada Yazid maka musnahlah segala perancangan kotor mereka untuk memporak-perandakan kesatuan umat Islam. Sekiranya Hussain berada di pihak Yazid maka sudah pasti mereka akan dihancurkan oleh tentera Islam. Menurut ulamak Syi’ah sendiri iaitu Mulla Baaqir Majlisi tentera Syi’ah lengkap bersenjata dari Kufah mengejar rombongan Saidina Hussain dan mereka bertemu di Karbala. Menurut Mulla Baqir Majlisi:
Sejarah memaparkan bahawa dialah (iaitu Syits bin Rab’ie seorang Syi’ah dari Kufah) yang mengetuai 4000 bala tentera untuk menentang Saidina Hussain dan dialah orang yang mula-mula turun dari kudanya untuk memenggal kepala Saidina Hussain – Mulla Baaqir Majlis, Jilaau al-‘Uyun, ms. 37. (Dinukil dari artikel Syiah Pembunuh Sayyidina Hussain di Karbala.)
Apa pun jua berkaitan dengan kedua-dua riwayat di atas, ternyata Yazid bebas dari tuduhan membunuh Saidina Hussain. Maka syahidlah Saidina Hussain di Karbala. Setelah peristiwa itu Yazid telah memberi perlindungan kepada ahli keluarga Saidina Hussain yang selamat dari serangan tersebut sehingga mereka kembali ke Madinah.
Justeru itu dapat kita pahami bahawa kisah Karbala versi Syiah yang menyatakan Yazid adalah pembunuh sebenar Saidina Hussain, malah kononnya Yazid telah menyuruh kepala Saidina Hussain dipenggal untuk diserahkan kepadanya, adalah tidak benar sama sekali. Apa yang harus kita pahami bahawa riwayat-riwayat yang menyatakan Yazid sebagai pembunuh Saidina Hussain 90% daripadanya adalah dari Abu Mikhnaf, al-Saaib al-Kalbi dan anaknya Hisyam yang merupakan penganut aliran Syi’ah Rafidhah yang ekstrim dan telah dituduh sebagi pendusta oleh ulamak-ulamak Rijal (ilmu mengkaji biografi para perawi).
Begitu jelas bahwa pihak yang sebenarnya bertanggungjawab di atas kematian Saidina Hussain adalah golongan Syiah di Kufah. Malah ‘Abdullah ibnu ‘Umar r.a seorang sahabat Nabi yang besar kedudukannya bahkan Rasulullah s.a.w. pernah bersabda tentang beliau: Sesungguhnya ‘Abdullah [Ibnu ‘Umar] adalah seorang lelaki yang soleh [rujuk hadis riwayat Imam al-Bukhari, no: 3740] telah mempertanggungjawabkan penduduk Kufah atas kematian Saidina Hussain. Dari Abdul Rahman bin Abi Na’m dia berkata:
Aku melihat (Abdullah) Ibn ‘Umar ditanya oleh seorang lelaki berkenaan hukum darah lalat. Ibn ‘Umar bertanya: Kamu berasal dari mana? Lelaki itu menjawab: Aku dari orang-orang Iraq.
Lalu Ibn ‘Umar berkata: Lihatlah orang ini, dia bertanya kepada aku berkenaan darah lalat padahal mereka (orang-orang Iraq) membunuh cucu Nabi s.a.w.. Aku mendengar Nabi s.a.w. bersabda: Mereka berdua (Hasan dan Husain) adalah penyejuk hatiku di dunia. – Hadis riwayat Imam al-Bukhari, no: 5994.
Malah Saidina Hussain sendiri telah menyalahkan penduduk Kufah di atas peperangan berat sebelah yang terpaksa beliau hadapi di Karbala. Telah diriwayatkan bahawa ucapan beliau yang terakhir sebelum terbunuh di Karbala adalah:
Ya Allah, berilah putusan di antara kami dan di antara orang-orang yang mengajak kami untuk menolong kami, namun ternyata mereka membunuh kami. (Rujuk buku Pengkhianatan Pengkhiantan Syiah Dan Pengaruhnya Terhadap Kekalahan Umat Islam karya Dr. Imad Ali Abdus Sami’, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta 2006, ms. 35-36.)
Bahkan ulamak Syi’ah Mulla Baaqir Majlisi juga telah meriwayatkan kata-kata terakhir Saidina Hussain sebelum syahid di Karbala:
Wahai orang-orang Kufah! Semoga kamu dilaknat sebagaimana dilaknat niat-niat jahat kamu. Wahai orang-orang yang curang, zalim dan pengkhianat! Kamu telah menjemput kami untuk membela kami di waktu kesempitan tetapi bila kami datang untuk membela kamu dengan menaruh kepercayaan kepada kamu maka sekarang kamu hunuskan pedang dendammu kepada kami dan kamu membantu musuh-musuh di dalam menentang kami. – Mulla Baaqir Majlis, Jilaau al-‘Uyun, ms. 391. (Dinukil dari artikel Syiah Pembunuh Sayyidina Hussain di Karbala.)
Seterusnya Mulla BaaqirMajlisi juga merakamkan doa Saidina Hussain terhadap golongan Syi’ah:
Binasalah kamu! Tuhan akan membalas bagi pihakku di dunia dan di akhirat… Kamu akan menghukum diri kamu sendiri dengan memukul pedang-pedang di atas tubuh mu dan muka mu dan kamu akan menumpahkan darah kamu sendiri. Kamu tidak akan mendapat keuntungan di dunia dan kamu tidak akan sampai kepada hajatmu. Apabila mati nanti sudah tersedia azab Tuhan untuk mu di akhirat. Kamu akan menerima azab yang akan diterima oleh orang-orang kafir yang paling dahsyat kekufurannya. – Mulla Baaqir Majlis, Jilaau al-‘Uyun, ms. 409. (Dinukil dari artikel Syiah Pembunuh Sayyidina Hussain di Karbala.)


-Tulisan berikut ini diterjemahkan dari tulisan dan sebagian ceramah Syaikh Utsman al-Khomis, seorang ulama yang terkenal sebagai pakar dalam pembahasan Syiah-.

Baca artikel  selengkapnya di KESESATAN SYIAH  tafhadol
Pembahasan tentang terbunuhnya cucu Rasulullalllah, asy-syahid Husein bin Ali‘alaihissalam telah banyak ditulis, namun beberapa orang ikhwan meminta saya agar menulis sebuah kisah shahih yang benar-benar bersumber dari para ahli sejarah. Maka saya pun menulis ringkasan kisah tersebut sebagai berikut –sebelumnya Syaikh telah menulis secara rinci tentang kisah terbunuhnya Husein di buku beliau Huqbah min at-Tarikh-.
Pada tahun 60 H, ketika Muawiyah bin Abu Sufyan wafat, penduduk Irak mendengar kabar bahwa Husein bin Ali belum berbaiat kepada Yazid bin Muawiyah, maka orang-orang Irak mengirimkan utusan kepada Husein yang membawakan baiat mereka secara tertulis kepadanya. Penduduk Irak tidak ingin kalau Yazid bin Muawiyah yang menjadi khalifah, bahkan mereka tidak menginginkan Muawiyah, Utsman, Umar, dan Abu Bakar menjadi khalifah, yang mereka inginkan adalah Ali dan anak keturunannya menjadi pemimpin umat Islam. Melalui utusan tersebut sampailah 500 pucuk surat lebih yang menyatakan akan membaiat Husein sebagai khalifah.
Setelah surat itu sampai di Mekah, Husein tidak terburu-buru membenarkan isi surat itu. Ia mengirimkan sepupunya, Muslim bin Aqil, untuk meneliti kebenaran kabar baiat ini. Sesampainya Muslim di Kufah, ia menyaksikan banyak orang yang sangat menginginkan Husein menjadi khalifah. Lalu mereka membaiat Husein melalui perantara Muslim bin Aqil. Baiat itu terjadi di kediaman Hani’ bin Urwah.
Kabar ini akhirnya sampai ke telinga Yazid bin Muawiyah di ibu kota kekhalifahan, Syam, lalu ia mengutus Ubaidullah bin Ziyad menuju Kufah untuk mencegah Husein masuk ke Irak dan meredam pemberontakan penduduk Kufah terhadap otoritas kekhalifahan. Saat Ubaidullah bin Ziyad tiba di Kufah, masalah ini sudah sangat memanas. Ia terus menanyakan perihal ini hingga akhirnya ia mengetahui bahwa kediaman Hani’ bin Urwah adalah sebagai tempat berlangsungnya pembaiatan dan di situ juga Muslim bin Aqil tinggal.
Ubaidullah menemui Hani’ bin Urwah dan menanyakannya tentang gejolak di Kufah. Ubaidullah ingin mendengar sendiri penjelasan langsung dari Hani’ bin Urwah walaupun sebenarnya ia sudah tahu tentang segala kabar yang beredar. Dengan berani dan penuh tanggung jawab terhadap keluarga Nabi (Muslim bin Aqil adalah keponakan Nabi), Hani’ bin Urwah mengatakan, “Demi Allah, sekiranya (Muslim bin Aqil) bersembunyi di kedua telapak kakiku ini, aku tidak akan memberitahukannya kepadamu!” Ubaidullah lantas memukulnya dan memerintahkan agar ia ditahan.
Mendengar kabar bahwa Ubaidullah memenjarakan Hani’ bin Urwah, Muslim bin Aqil bersama 4000 orang yang membaiatnya mengepung istana Ubaidullah bin Ziyad. Pengepungan itu terjadi di siang hari.
Ubaidullah bin Ziayd merespon ancaman Muslim dengan mengatakan akan mendatangkan sejumlah pasukan dari Syam. Ternyata gertakan Ubaidullah membuat takut Syiah (pembela) Husein ini. Mereka pun berkhianat dan berlari meninggalkan Muslim bin Aqil hingga tersisa 30 orang saja yang bersama Muslim bin Aqil, dan belumlah matahari terbenam hanya tersisa Muslim bin Aqil seorang diri.
Muslim pun ditangkap dan Ubaidullah memerintahkan agar ia dibunuh. Sebelum dieksekusi, Muslim meminta izin untuk mengirim surat kepada Husein, keinginan terakhirnya dikabulkan oleh Ubaidullah bin Ziyad. Isi surat Muslim kepada Husein adalah “Pergilah, pulanglah kepada keluargamu! Jangan engkau tertipu oleh penduduk Kufah. Sesungguhnya penduduk Kufah telah berkhianat kepadamu dan juga kepadaku. Orang-orang pendusta itu tidak memiliki pandangan (untuk mempertimbangkan masalah)”. Muslim bin Aqil pun dibunuh, padahal saat itu adalah hari Arafah.
Husein berangkat dari Mekah menuju Kufah di hari tarwiyah. Banyak para sahabat Nabi menasihatinya agar tidak pergi ke Kufah. Di antara yang menasihatinya adalah Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Zubair, Abu Said al-Khudri, Abdullah bin Amr, saudara tiri Husein, Muhammad al-Hanafiyah dll.
Abu Said al-Khudri radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya aku adalah seorang penasihat untukmu, dan aku sangat menyayangimu. Telah sampai berita bahwa orang-orang yang mengaku sebagai Syiahmu (pembelamu) di Kufah menulis surat kepadamu. Mereka mengajakmu untuk bergabung bersama mereka, janganlah engkau pergi bergabung bersama mereka karena aku mendengar ayahmu –Ali bin Abi Thalib- mengatakan tentang penduduk Kufah, ‘Demi Allah, aku bosan dan benci kepada mereka, demikian juga mereka bosan dan benci kepadaku. Mereka tidak memiliki sikap memenuhi janji sedikit pun. Niat dan kesungguhan mereka tidak ada dalam suatu permasalahan (mudah berubah pen.). Mereka juga bukan orang-orang yang sabar ketika menghadapi pedang (penakut pen.)’.
Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Aku hendak menyampaikan kepadamu beberapa kalimat. Sesungguhnya Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian memberikan dua pilihan kepada beluai antara dunia dan akhirat, maka beliau memilih akhirat dan tidak mengiginkan dunia. Engkau adalah darah dagingnya, demi Allah tidaklah Allah memberikan atau menghindarkan kalian (ahlul bait) dari suatu hal, kecuali hal itu adalah yang terbaik untuk kalian”. Husein tetap enggan membatalkan keberangkatannya. Abdullah bin Umar pun menangis, lalu mengatakan, “Aku titipkan engkau kepada Allah dari pembunuhan”.
Setelah meneruskan keberangkatannya, datanglah kabar kepada Husein tentang tewasnya Muslim bin Aqil. Husein pun sadar bahwa keputusannya ke Irak keliru, dan ia hendak pulang menuju Mekah atau Madinah, namun anak-anak Muslim mengatakan, “Janganlah engkau pulang, sampai kita menuntut hukum atas terbunuhnya ayah kami”. Karena menghormati Muslim dan berempati terhadap anak-anaknya, Husein akhirnya tetap berangkat menuju Kufah dengan tujuan menuntut hukuman bagi pembunuh Muslim.
Bersamaan dengan itu Ubaidullah bin Ziyad telah mengutus al-Hurru bin Yazid at-Tamimi dengan membawa 1000 pasukan untuk menghadang Husein agar tidak memasuki Kufah. Bertemulah al-Hurru dengan Husein di Qadisiyah, ia mencoba menghalangi Husein agar tidak masuk ke Kufah. Husein mengatakan, “Celakalah ibumu, menjauhlah dariku”. Al-Hurru menjawab, “Demi Allah, kalau saja yang mengatakan itu adalah orang selainmu akan aku balas dengan menghinanya dan menghina ibunya, tapi apa yang akan aku katakan kepadamu, ibumu adalah wanita yang paling mulia, radhiallahu ‘anha”.
Saat Husein menginjakkan kakinya di daerah Karbala, tibalah 4000 pasukan lainnya yang dikirim oleh Ubaidullah bin Ziyad dengan pimpinan pasukan Umar bin Saad. Husein mengatakan, “Apa nama tempat ini?” Orang-orang menjawab, “Ini adalah daerah Karbala.” Kemudian Husein menanggapi, “Karbun(musibah) dan balaa’ (bencana).”
Melihat pasukan dalam jumlah yang sangat besar, Husein radhiallahu ‘anhu menyadari tidak ada peluang baginya. Lalu ia mengatakan, “Aku ada dua alternatif pilihan, (1) kalian mengawal (menjamin keamananku) pulang atau (2) kalian biarkan aku pergi menghadap Yazid di Syam.
Engkau pergi menghadap Yazid, tapi sebelumnya aku akan menghadap Ubaidullah bin Ziyad terlebih dahulu kata Umar bin Saad. Ternyata Ubadiullah menolak jika Husein pergi menghadap Yazid, ia menginginkan agar Husein ditawan menghadapnya. Mendengar hal itu Husein menolak untuk menjadi tawanan.
Terjadilah peperangan yang sangat tidak imbang antara 73 orang di pihak Husein berhadapan dengan 5000 pasukan Irak. Kemudian 30 orang pasukan Irak dipimpin oleh al-Hurru bin Yazid at-Tamimi membelot dan bergabung dengan Husein. Peperangan yang tidak imbang itu menewaskan semua orang yang mendukung Husein, hingga tersisa Husein seorang diri. Orang-orang Kufah merasa takut dan segan untuk membunuhnya, masih tersisa sedikit rasa hormat mereka kepada darah keluarga Nabi Muhammadshallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun ada seorang laki-laki yang bernama Amr bin Dzi al-Jausyan –semoga Allah menghinakannya- melemparkan panah lalu mengenai Husein, Husein pun terjatuh lalu orang-orang mengeroyoknya, Husein akhirnya syahid, semoga Allah meridhainya. Ada yang mengatakan Amr bin Dzi al-Jausyan-lah yang memotong kepala Husein sedangkan dalam riwayat lain, orang yang menggorok kepala Husein adalah Sinan bin Anas, Allahu a’lam. Yang perlu pembaca ketauhi Ubaidullah bin Ziyad, Amr bin Dzi al-Jausyan, dan Sinan bin Anas adalah pembela Ali (Syiah nya Ali) di Perang Shiffin.
Ini adalah sebuah kisah pilu yang sangat menyedihkan, celaka dan terhinalah orang-orang yang turut serta dalam pembunuhan Husein dan ahlul bait yang bersamanya. Bagi mereka kemurkaan dari Allah. Semoga Allah merahmati dan meridhai Husein dan orang-orang yang tewas bersamanya. Di antara ahlul bait yang terbunuh bersama Husein adalah:
–          Anak-anak Ali bin Abi Thalib: Abu Bakar, Muhammad, Utsman, Ja’far, dan Abbas.
–          Anak-anak Husein bin Ali: Ali al-Akbar dan Abdullah.
–          Anak-anak Hasan bin Ali: Abu Bakar, Abdullah, Qosim.
–          Anak-anak Aqil bin Abi Thalib: Ja’far, Abdullah, Abdurrahman, dan Abdullah bin Muslim bin Aqil.
–          Anak-anak dari Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib: ‘Aun dan Muhammad.
Dari Ummu Salamah bawasanya Jibril datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam “…Jibril mengatakan, “Apakah engkau mencintai Husein wahai Muhammad?” Nabi menjawab, “Tentu” Jibril melanjutkan, “Sesungguhnya umatmu akan membunuhnya. Kalau engkau mau, akan aku tunjukkan tempat dimana ia akan terbunuh.” Kemudian Nabi diperlihatkan tempat tersebut, sebuah tempat yang dinamakan Karbala. (HR. Ahmad dalam Fadhailu ash-Shahabah, ia mengatakan hadis ini hasan). Adapun berita-berita bahwa langit menurunkan hujan darah, dinding-dinding berdarah, batu yang diangkat lalu di bawahnya terdapat darah, dll. karena sedih dengan tewasnya Husein, berita-berita ini tidak bersumber dari rujukan yang shahih.
Benarkah Sikap Husein ‘alaihissalam Pergi ke Irak?
Tidak ada kemaslahatan dalam hal dunia maupun akhirat dari sikap Husein ‘alaihissalam yang keluar menuju Irak. Oleh karena itu, banyak sahabat Nabi yang berusaha mencegahnya dan melarangnya berangkat ke Irak. Husein pun menyadari hal itu dan ia sempat hendak pulang, namun anak-anak Muslim bin Aqil memintanya mengambil sikap atas terbunuhnya ayah mereka. Husein dengan penuh tanggung jawab tidak lari dari permasalahan ini. Dari peristiwa ini tampaklah kezaliman dan kesombongan orang-orang Kufah (Syiah-nya Husein) terhadap ahlul bait Nabi ‘alaihumu ash-shalatu wa salam.
Sekiranya Husein ‘alaihissalam menuruti nasihat para sahabat tentu tidak terjadi peristiwa ini, akan tetapi Allah telah menetapkan takdirnya. Terbunuhnya Husein ini tentu saja tidak sebesar peristiwa terbunuhnya para Nabi, semisal dipenggalnya kepala Nabi Yahya oleh seorang raja, karena calon istri raja tersebut meminta kepala Nabi Yahya bin Zakariya sebagai mahar pernikahan. Demikian juga dibunuhnya Nabi Zakariya oleh Bani Israil, dan nabi-nabi lainnya. Demikian juga dengan dibunuhnya Umar dan Utsman. Semua kejadian itu lebih besar dibanding dengan peristiwa dibunuhnya Husein ‘alaihissalam.
 Bagaimana Sikap Kita Terhadap Peristiwa Karbala?
Tidak diperbolehkan bagi umat Islam, apabila disebutkan tentang kematian Husein, maka ia meratap dengan memukul-mukul pipi atau merobek-robek pakaian, atau bentuk ratapan yang semisalnya. Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukan termasuk golongan kami, orang-orang yang menampar-nampar pipi dan merobek saku bajunya.” (HR. Bukhari).
Seorang muslim yang baik, apabila mendengar musibah ini hendaknya ia mengatakan sebuah kalimat yang Allah tuntunkan dalam firman-Nya,
الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعونَ
“Orang-orang yang apabila mereka ditimpa musibah, mereka mengtakan sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami akan kembali.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Tidak pernah diriwayatkan bahwa Ali bin Husein atau putranya Muhammad, atau Ja’far ash-Shadiq atau Musa bin Ja’far radhiallahu ‘anhum, para imam dari kalangan ahlul bait maupun selain mereka pernah memukul-mukul pipi mereka, atau merobek-robek pakaian atau berteriak-teriak, dalam rangka meratapi kematian Husein. Tirulah mereka kalau engkau tidak bisa serupa dengan mereka, karena meniru orang-orang yang mulia itu adalah kemuliaan.
Tidak seperti orang-orang yang mengaku Syiah (pembela) Husein, Syiahnya ahlul bait Nabi pada hari ini, mereka merusak anggota tubuh, memukul kepala dan tubuh dengan pedang dan rantai, mereka katakan kami bangga menyucurkan darah bersama Husein. Demi Allah, sekiranya mereka berada pada hari dimana Husein terbunuh mereka akan turut serta dalam kelompok pembunuh Husein karena mereka adalah orang-orang yang selalu berhianat.
Posisi Yazid Dalam Peristiwa Ini
Dalm permasalahan ini, Yazid sama sekali tidak turut campur. Aku mengakatakan hal ini bukan untuk membela Yazid tetapi hanya untuk mendudukan permasalahan yang sebenarnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Yazid bin Muawiyah tidak memerintahkan untuk membunuh Husein. Ini adalah kesepatakan para ahli sejarah. Yazid hanya memerintahkan Ubaidullah bin Ziyad agar mencegah Husein untuk memasuki wilayah Irak. Ketika Yazid mendengar tewasnya Husein, Yazid pun terkejut dan menangis. Setelah itu Yazid memuliakan keluarga Husein dan mengamankan anggota keluarga yang tersisa sampai ke daerah mereka. Adapun riwayat yang menyatakan bahwa Yazid merendahkan perempuan-perempuan ahlul bait lalu membawa mereka ke Syam, ini adalah riwayat yang batil. Bani Umayyah (keluarga Yazid) selalu memuliakan Bani Hasyim (keluarga Rasulullah).
Sebelumnya Yazid telah mengirim surat kepada Husein ketika di Mekah, ternyata saat surat itu tiba Husein telah berangkat menuju Irak. Surat itu berisikan syair dari Yazid untuk melunakkan hati Husein agar tidak berangkat ke Irak dan Yazid juga menyatakan kedekatan kekerabatan mereka. Bibi Yazid, Ummu Habibah adalah istri Rasulullah dan kakek (Jawa: mbah buyut) Yazid dan Husein adalah saudara kembar.
Kepala Husein
Tidak ada riwayat yang shahih yang menyatakan bahwa kepala Husein dikirim kepada Yazid di Syam. Husein tewas di Karbala dan kepalanya didatangkan kepada Ubaidullah bin Ziyad. Tidak diketahui dimana makamnya dan makam kepalanya.
Wallahu Ta’ala a’la wa a’lam, wa shallallahu ‘ala nabiyyina muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi ajma’in.
Sumber: almanhaj.net
Pesta kematian padang Karbala
Ilustrasi - Pesta kematian padang Karbala

 Baca artikel  selengkapnya di KESESATAN SYIAH  tafhadol
(Arrahmah.com) – Ada yang rutin ditemukan pada ‘khazanah’ tradisi di Indonesia selama mengisi sepuluh hari bulan Muharram. Na’am, beberapa perhelatan massal kerap ditemui rutin di beberapa kota besar. Acara yang digelar tiap tahunnya ini diikuti oleh hampir sebagian besar umat muslim, baik di perkotaan maupun di pelosok dengan usungan tradisi yang berbeda-beda nama. Sebut saja dua macam yang mewakilinya, yaitu perayaan Tabot di Bengkulu dan perayaan Tabuik di Padang, Sumatera Barat.
Dua jenis tradisi ini sangat dikenal di masyarakat dan selalu menyedot antusias masyarakat. Uniknya, hal ini sudah dibakukan menjadi salah-satu ‘aset’ yang memiliki nilai daya-jual dalam mengundang minat para wisatawan agar bertandang ke daerah yang telah mencanangkan diri sebagai tujuan obyek wisata tersebut. Wajar bila instansi pemerintah yang terkait, juga ‘turun-tangan’ dalam program yang bisa mendongkrak popularitas budaya dan pariwisata daerahnya tersebut.
Hal ini sesuai pernyataan Kadin Perhubungan Komunikasi & Informatika—Eko Agusrianto, seperti yang dilansir ANTARA Bengkulu (rabu, 7/11/2012), bahwa pemerintah propinsi Bengkulu menyediakan dana sebesar 800 juta rupiah untuk membantu pemerintah kota Bengkulu dalam menggelar festival Tabot, dikatakannya, “Seperti tahun sebelumnya, pemerintah propinsi Bengkulu dan pemerintah kota Bengkulu akan berperan maksimal untuk menyukseskan agenda tahunan ini.” Festival yang akan diadakan pada 14-24 November 2012 tersebut memang diharapkan mampu untuk mengangkat khazanah budaya dan pariwisata di Bengkulu.
Serupa dengan Bengkulu yang tengah bersiap mempercantik daerahnya, perayaan Tabuik juga dikatakan selalu ‘laku’ dalam menarik minat masyarakat. Terbukti dari setiap tahunnya, perayaan bernuansa religi  ini tak pernah sepi kunjungan. Konon, dahulunya perayaan yang sudah dimulai tahun 1824 ini dilakukan oleh para pedagang Islam yang berasal dari Aceh, Bengkulu, India, bahkan negeri Arab.
Berikut sedikit info tentang kedua perayaan massal tersebut;
Perayaan Tabot

Selain itu, yang lain mengatakan pula bahwa adat tersebut diperkenalkan oleh para ahli bangunan yang saat itu bekerja dalam membangun  benteng Marlbourght di Bengkulu. Mereka yang juga disebut masyarakat Sipai, berasal dari daerah Madras dan Bengali. Dari sebagian mereka yang ‘kerasan’ berkehidupan di Bengkulu lah tradisi perayaan Tabot bermula.
Kata ‘Tabot’ berasal dari bahasa Arab yaitu  التَّابُوْتُ yang berarti sebuah kotak atau peti. Seperti tertera keterangan di surat al-Baqarah di ayat ke-248 bahwa tabut adalah sebuah peti yang berisikan kitab Taurat yang dapat membawa ketenangan kepada kaum nabi Musa as yaitu bani Israil. Kala itu bani Israil sangat mempercayai bahwa tabut akan mampu memberikan kebaikan selama berada di kekuasaan pemimpin mereka, namun bila tabut itu raib, maka kegoncangan dan bala-bencanapun diyakini akan menimpa kehidupan mereka. Oleh karena itulah, mereka amat menjaga tabut ini dan menjadikannya sebuah ritual hingga kini.
Di setiap perayaannya, jumlah tabut yang diusung tak hanya satu, namun bisa mencapai puluhan yang biasanya terdiri dari belasan peti yang dianggap sakral dan puluhan peti yang dikreasikan dengan bentuk bebas. Yang menjadi daya-pikatnya adalah kemasannya yang sangat attractive dan dibentuk sedemikian rupa dengan berbagai ornamen warna-warni yang amat mencolok-mata—membuat center-piece inipun disukai masyarakat yang tetap mengikutinya hingga perayaan berakhir.
Selain itu, pengarakan tabut-tabut yang penuh kemeriahan inipun disandingkan dengan perayaan hari kematian Husain bin Ali bin Abi Thalib, salah-seorang cucu Rasulullah saw yang tewas pada 10 Muharram 681 M dalam menghadapi pasukan Ubaidullah bin Ziyad di daerah Padang Karbala, Irak.
Diyakini oleh masyarakat Bengkulu yang aktif mengikuti perayaan ini bahwa perayaan Tabot memiliki ragam nilai, baik dari segi agama, sejarah, sosial, maupun budaya. Ditilik dari sudut agama katanya ritual ini merupakan ikut bersuka-citanya akan kehadiran bulan Muharram, selain itu menanamkan rasa cinta sekaligus duka-cita yang mendalam atas terbunuhnya Husain ra. Dari sudut sejarah, ia mengingatkan akan peristiwa Asyuro’ di Padang Karbala yang sangat menyayat hati dan mengundang kemurkaan. Sementara jika dilihat dari sisi sosial, perayaan Tabot dipercaya dapat menumbuhkan sikap kebersamaan serta rasa solidaritas yang tinggi. Dan untuk sisi budaya, ia merupakan aset kebanggaan yang menjadi salah-satu ciri perkembangan tradisi di Bengkulu sejak ratusan tahun lalu.
Karena ditinjau dari alasan itulah, maka kegiatan tahunan ini juga mendapat perhatian serius dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata propinsi Bengkulu. Seperti dikatakan Buyung Asril–sekretaris dinas lembaga pemerintah daerah tersebut yang dilansir Info Publik (5/12/2011) bahwa festival Tabot tersebut sudah mendapat dukungan lembaga pemerintah setempat yang salah-satu bentuk dukungannya adalah dengan penggalangan dari sudut promosi untuk disyiarkan melalui media massa sehingga gaungnya semakin meluas. Dikatakannya pula bahwa perayaan Tabot menjadikan adanya ‘hubungan emosional’ dengan dunia internasional, yaitu Irak  dengan sejarah tragedi di Padang Karbalanya dan Iran dengan pesta Asyura’nya.
Perayaan Tabuik

Adapun ritual yang terdapat di dalam perayaan Tabuik ini diantaranya adalah upacara Maatam Panja yang dilaksanakan tanggal 7 Muharram dan ditunaikan setelah sholat dzuhur. Ritual ini dikerjakan dengan mengitari sebuah daraga sambil menangis sebagai tanda duka-cita atas terbunuhnya Husein ra. Ada pula ritual Maarak Panja, yaitu pengarakan sebuah kubah yang terbuat dari bambu dan kertas, dimana kertas ini digambari jari-jari yang terputus, yang diseolahkan jari-jari Husein ra yang telah dipotong pada peristiwa Karbala. Kubah tersebut akan diarak mengelilingi kampung dan mengisyaratkan kesedihan akan tewasnya cucu Rasulullah tersebut. Kemudian di keesokkan harinya ada ritual Maarak Sorban, yaitu pengarakan yang menggambarkan peristiwa kepala Husein ra yang telah dipenggal dan juga memperlihatkan kekejaman Yazid bin Muawwiyah.
Sedianya, bangunan-bangunan bambu tersebut diusung hingga ke laut untuk dihanyutkan di hari terakhir yaitu hari ke-10 Muharram, bertepatan ketika waktu adzan maghrib dikumandangkan. Perhelatan ini tentu saja selalu membuat suasana kota ‘tanduk kerbau’ itu menjadi ramai bahkan padat karena kunjungan. Momen ini juga dimanfaatkan sebagian besar pedagang untuk menjajakan barang dagangan yang mereka beroleh laba karenanya. Para pedagang tampak bersemangat atas hasilnya yang lumayan karena padatnya pengunjung, sehingga merasa adanya ‘berkah’ dari perayaan ini. Apalagi ritual terakhir Hoyak Tabuik yang sisa-sisanya menjadi obyek rebutan massa karena dianggap dapat mendatangkan berkah dan bisa dijadikan ‘penglaris’. Dari sisi lain, salah-seorang tokoh masyarakat kota Pariaman—H. Bagindo Fahmi, menyatakan bahwa perayaan Tabuik merupakan salah-satu tradisi kebanggaan untuk masyarakatnya, bahkan dikatakannya pula bahwa tradisi tersebut telah menjadi alat pemersatu bagi masyarakat daerah tersebut sehingga dibuat komitmen agar tradisi perayaan Tabuik sejatinya akan terus langgeng.
Pesta Asyura’
Hari Asyura’ merupakan hari dimana dahulunya Allah Ta’ala telah menyelamatkan nabi Musa as dari kejaran Fir’aun la’natullah beserta bala-tentaranya. Sebagai rasa syukurnya, nabi Musa as melakukan shaum pada tanggal tersebut, yaitu 10 Muharram. Mengenai perihal ini, terdapat satu hadits yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Abbas ra,
Artinya,  “Sewaktu Rasululloh saw tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi shaum pada hari Asyura’. Lalu beliau bertanya, “Apakah ini?” Mereka menjawab, “Hari ini adalah hari yang baik, hari yang Allah telah selamatkan bani Israil dari musuh mereka. Kemudian, nabi Musa shaum. Lalu Rasululloh saw bersabda, “Aku lebih berhak terhadap nabi Musa dari kalian (orang Yahudi)”. Kemudian, beliau shaum dan memerintahkan (para sahabat) supaya berpuasa pada hari tersebut.” (HR. Bukhari-Muslim)
Abu Qatadah menyebutkan bahwa Rasulullah saw juga bersabda,
وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُرَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
Artinya, “Dan ( dalam) shiyam hari Asyura’, aku berharap kepada Allah agar hal itu dapat menebus dosa dari tahun yang sebelumnya.” (HR. Muttafaqun ‘alaihi)
Dari keterangan tersebut, maka jelaslah apa-apa yang seharusnya dikerjakan umat muslim dalam upayanya mencontoh kehidupan Rasulullah berkenaan dengan tanggal 10 Muharram. Tidak ada satupun perayaan khusus atau peribadahan ritual yang disandarkan kepada adat dan kebiasaan yang ada di daerah mereka seperti yang biasa dirutinkan. Semuanya harus kembali kepada pakem apakah Rasulullah mencontohkannya atau tidak. Bila ternyata tidak, umat harusnya berhati-hati karena hal itu merupakan perangkap setan yang bisa mengundang laknat Allah azza wa jalla. Naudzubillahi min dzaalika.
Bentuk kebid’ahan yang paling pamor di bulan Muharram ini, yang menyesatkan dan sudah berlangsung lama diantaranya adalah perayaan hari Asyura’  yang diadakan oleh pemeluk agama Syi’ah (dimana mereka selalu menisbatkan-diri termasuk ke dalam golongan muslim). Mereka menganggap bahwa hari Asyura’ adalah hari berkabung atas kematian Husain ra. Di saat itu mereka akan mengungkapkan kesedihannya dengan menangis seraya menampar-nampar wajah mereka sendiri, merobek-robek pakaiannya, hingga mereka tak segan-segan melukai diri mereka sendiri dengan berbagai alat yang bisa melukai, seperti cambuk, rantai besi, pedang, dan sebagainya. Mereka menganggap dengan berprilaku begitu akan bisa turut merasakan penderitaan dan kesakitan yang dialami cucu Rasulullah tersebut.
Bagi pemeluk agama Syi’ah, peristiwa terbunuhnya Husein ra merupakan peristiwa besar yang sangat digung-agungkan. Begitupun dengan Padang Karbala yang telah dijadikan tempat sakral mereka dalam melakukan peribadahan melebihi kota Mekkah dan Masjidil Haram. Mereka justru lebih memuliakan tempat itu ketimbang dua tempat yang telah dimuliakan Allah Ta’ala tersebut.
Ritual yang dilaksanakan di hari Asyura’ yang mereka yakini diantaranya dengan mengenakan busana berwarna hitam dengan saling mengucapkan kalimat bela-sungkawa yang ditujukan kepada Husain ra. Mereka mengadakan Manakib Husainiyah atau aksi arak-arakan kubah Husain yang terbuat dari kayu ke jalan-jalan sambil melakukan niyahah. Sesekali terdengar teriakan keras mereka memekikkan nama Husain ra. Sementara itu bagi mereka yang kebetulan membawa-serta anak-anaknya, tampak mengajarkan ritual itu agar anak-anak tersebut dapat turut menangis saat mengikuti jalannya prosesi. Seorang ulama’ Syi’ah dalam Man Qatalal Husain menyatakan bahwa meratapi kematian Husein ra dengan berteriak-teriak, hukumnya wajib ‘ain.
Para penganut Syi’ah dewasa yang ekstrimis biasanya unjuk ‘keberanian’ dengan melukai anggota tubuh mereka sendiri hingga mengalirnya darah. Aksi ekstrim yang biasanya dilakukan di daerah Karbala ini, mereka tunaikan sebagai bentuk ikut merasakan penderitaan Husain yang terluka kala itu. Ayatullah al-‘Uzhma Syaikh Muhammad Husain an-Nati dalam Man Qatalal Husain hal. 65 mengatakan, “Tidak ada masalah tentang hukumnya menampar pipi dan dada dengan tangan sampai memerah dan menghitam. Dan lebih ditekankan lagi memukul pundak dan punggung dengan rantai hingga kulit menjadi kemerahan dan gosong. Bahkan lebih ditekankan lagi jika hal itu sampai mengeluarkan darah dari kening dan puncak kepala dengan menggunakan pedang.”
Ritual penyiksaan ini biasanya terlaksana di negara-negara yang penganut Syi’ahnya mencapai jumlah mayoritas, seperti Iran, Irak, dan India. (Tidak tertutup kemungkinan kelompok Syi’ah di Indonesia akan menunaikan bentuk penyiksaan diri seperti demikian, apalagi isyu berkembangnya aliran sesat ini kian santer di negara yang mayoritas berpenduduk muslim ini).
Di tengah-tengah perayaan Asyura’ itu, mirisnya mereka juga tak ketinggalan memaki-maki para khulafaur rasyidin yang amat dicintai Rasulullah saw. Wal ‘iyadzubillahi.
Dalam menyambut hari Asyura’ juga beredar hadits-hadits maudhu’, diantaranya yang berbunyi, “Barangsiapa yang memakai celak di hari Asyuro’, maka ia tidak akan mengalami sakit mata pada tahun itu.” Atau hadits lain berbunyi, “Barangsiapa yang melebihkan nafkah bagi keluarganya di hari Asyura’, maka Allah akan melapangkan rezekinya selama setahun itu.”
Penganut Syi’ah juga menganggap hari Asyura’ sebagai hari penuh kesialan. Oleh karena anggapan itu, maka mereka banyak menunda berbagai aktivitasnya, seperti menunda pernikahan, tidak melakukan safar, tidak berpakaian bagus, dan sebagainya.
Riwayat shohih tentang peristiwa Karbala
Riwayat yang paling shohih berikut ini dibawakan oleh Imam al-Bukhari, no.3748:
Dia mengatakan, “Kepala Husein ra dibawa dan didatangkan kepada Ubaidullah bin Ziyad. Kepala itu ditaruh di bejana, lalu Ubaidullah bin Ziyad menusuk-nusuk (dengan pedangnya) seraya berkomentar sedikit tentang ketampanan Husein. Anas ra mengatakan, “Diantara ahlul bait, Husein adalah orang yang paling mirip dengan Rasulullah. Saat itu Husein disemir rambutnya dengan wasmah ( tumbuhan sejenis pacar yang warnanya condong ke warna hitam ).”
Kisahnya, Husein bin Ali bin Abi Thalib tinggal di Mekah bersama beberapa para sahabat seperti Ibnu ‘Abbas dan Ibnu Zubair. Ketika Muawwiyah meninggal dunia pada tahun 60 Hijriyah, anak beliau Yazid bin Muawwiyah menggantikannya sebagai khalifah. Saat itu penduduk Iraq yang didominasi oleh pengikut Ali ra menulis surat kepada Husein untuk meminta beliau berpindah ke Iraq. Mereka berjanji akan membai’at Husein sebagai khalifah karena mereka tidak menginginkan Yazid bin Muawwiyah menjadi khalifah. Ternyata tidak hanya melalui surat, mereka pun terkadang mendatangi Husein di Mekah dan mengajak beliau untuk berangkat ke Kuffah dan berjanji akan menyediakan pasukan.
Para sahabat seperti Ibnu ‘Abbas kerap kali menasehati Husein agar tidak memenuhi keinginan mereka, karena ayah Husein, Ali bin Abi Thalib juga dibunuh di Kuffah sehingga Ibnu ‘Abbas mengkhawatirkan keselamatan Husein pula. Namun Husein mengatakan bahwa ia telah melaksanakan sholat istikharoh dan telah memutuskan akan berangkat ke Kuffah. Sebagian riwayat menyatakan bahwa beliau mengambil keputusan itu karena belum mendengar bahwa sepupunya yaitu Muslim bin ‘Aqil telah dibunuh di tempat itu juga. Akhirnya berangkatlah Husein dan keluarganya menuju ke Kuffah.
Sementara di pihak lain, Ubaidullah bin Ziyad diutus oleh Yazid bin Muawwiyah untuk mengatasi pergolakan di Iraq. Akhirnya Ubaidullah dan pasukannya berhadapan dengan Husein yang sedang berada dalam perjalanan bersama keluarganya menuju Iraq. Pergolakan itu sendiri dipicu oleh orang-orang yang ingin memanfaatkan Husein. Dua pasukan yang tidak imbang ini bertemu di Karbala, sementara orang-orang Irak yang membujuk Husein untuk membantu dan menyiapkan pasukan justru melarikan diri meninggalkan Husein dan keluarganya untuk berhadapan dengan pasukan Ubaidullah. Hingga akhirnya terbunuhlah Husein sebagai orang yang terzhalimi dan dalam keadaan syahid. Kepalanya lalu dipenggal dan dibawa ke hadapan Ubaidullah bin Ziyad kemudian diletakkan di dalam bejana. Ubaidullah yang tidak pernah diperintahkan untuk membunuh Husein ini pun lalu menusuk-nusukkan pedangnya ke hidung, mulut, dan gigi Husein, padahal disana ada Anas bin Malik, Zaid bin Arqam dan Abu Barzah al-Aslami. Melihat perbuatan yang sangat tak manusiawi itu, Anas ra lantas mengatakan,
“Singkirkan pedangmu dari mulut itu, karena aku pernah melihat mulut Rasulullah mencium mulut itu!” Mendengar kata-kata Anas ra, Ubaidullah pun marah lalu mengatakan, “Seandainya aku tidak melihatmu sebagai seorang-tua yang telah renta dan yang akalnya sudah rusak, maka pasti kepalamu akan kupenggal!” Dalam riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Hibban dari Hafshah binti Sirrin dari Anas ra dinyatakan, “Lalu Ubaidullah mulai menusuk-nusukkan pedangnya ke hidung Husein ra.”
Adapun riwayat palsu yang beredar tentang peristiwa ini menyatakan bahwa kepala Husein diarak dan diletakkan di depan Yazid bin Muawwiyah. Ini sesuatu yang mustahil, sebab saat itu Yazid bin Muawwiyah berada di negeri Syams, sedangkan peristiwa yang menimpa Husein terjadi di Karbala, Irak.  Sementara itu dikatakan pula bahwa kaum perempuan dari keluarga Husein disebutkan diarak dengan kendaraan tanpa pelana dan ditawan. Ini hanyalah kisah dusta yang ditambah-tambah penganut Syi’ah semata. Tak cukup hanya merubah dan menambah sehingga bercampur dengan cerita fiktif tentang peristiwa Karbala, mereka pun nekat menyusun hadits-hadits maudhu’ untuk mendukung sikap ghuluw mereka terhadap Husein ra.
Syaikhul Islam rahimahullah telah membagi tiga kelompok manusia dalam kaitannya menyikapi tragedi Karbala, yaitu:
1. Kelompok yang menyatakan secara terang-terangan bahwa tragedi pembunuhan itu layak diterima Husein ra karena adanya anggapan bahwa Husein ra telah memberontak kepada Yazid bin Muawwiyah yang tengah berkuasa saat itu. Begitu juga dengan tuduhan kelompok ini bahwa Husein ra berniat memecah-belah umat. Oleh sebab itu kelompok ini selalu membawa hujjah sebuah hadits dari Rasulullah yang berbunyi:
مَنْ جَاءَكُمْ وَ أَمْرُكُمْ عَلَى رَجُلٍ وَاحِدٍ يُرِيْدُ أَنْ يُفَرِّقَ جَمَاعَتَكُمْ فَاقْتُلُوْهُ.
Artinya, “Jika ada orang yang mendatangi kalian dalam keadaan urusan kalian berada dalam satu kepemimpinan, lalu datanglah seseorang yang akan memecah-belah jama’ah kalian, maka bunuhlah ia.” (HR. Muslim)
2. Kelompok yang sangat taklid kepada Husein ra sehingga mengatakan bahwa keta’atan adalah dibawah perintah Husein ra. Kelompok yang sangat mendewakan Husein ra ini dipimpin oleh Muchtar bin Abi ‘Ubaid yang kemudian menugaskan pasukannya untuk membunuh dan memenggal kepala Ubaidullah bin Ziyad.
3. Kelompok yang menghormati Husein ra sebagai seorang ahli bait yang sholih dan menepis tudingan kelompok pertama yang menghujat Husein ra sebagai pemberontak. Kelompok ini berkeyakinan bahwa Husein ra tewas dalam keadaan dizhalimi dan mendapat kesyahidan. Syaikhul Islam rahimahullah  dalam Minhajus Sunnah (IV/550) mengatakan bahwa tidak diragukan lagi bahwa Husein ra terbunuh dalam keadaan terzhalimi dan syahid. Pembunuhan terhadapnya merupakan bentuk kemaksiatan kepada Allah Ta’ala dan rasul-Nya dari para pelaku pembunuhan dan orang-orang yang membantunya. Selain itu, ini merupakan musibah yang menimpa kaum muslimin, keluarga Rasulullah, dan yang lainnya. Husein ra berhak mendapatkan gelar asy-syahid, kedudukan, serta derajat yang tinggi. Kelompok ketiga inilah yang merupakan golongan ahlussunnah wal jama’ah.
Petunjuk Allah Ta’ala ketika musibah menimpa seorang muslim
Dalam tuntunan Allah Ta’ala yang telah disampaikan melalui Rasulullah saw, ada beberapa yang seharusnya dijadikan rujukan bagi setiap muslim dalam menghadapi sebuah musibah, misalnya kematian keluarga atau kerabat. Diantaranya adalah firman-Nya,
Artinya, “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun’. Mereka itulah yang mendapatkan keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-Baqarah, 2:155-157)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir jelas dijabarkan bahwa Allah Ta’ala telah memastikan bahwa setiap hamba akan menerima ujiannya masing-masing. Ujian tersebut kadang berupa kebaikan dan kadang berupa keburukan yang sangat tidak disukai oleh seorang hamba. Namun Allah Ta’ala juga memberikan petunjuk bahwa hanya orang-orang yang bersabarlah yang akan beroleh kegembiraan, yaitu berupa pahala keberkahan yang sempurna dan rahmat-Nya. Sebaliknya, bila ujian itu membuat hamba tersebut selalu berkeluh-kesah, menyesalinya, bahkan bersuudzhon kepada Allah Ta’ala, maka kemurkaan dan kerugianlah yang diperolehnya.
Dalam ayat tersebut juga diperintahkan apabila seorang hamba tertimpa musibah, maka disunnahkan membaca kalimat istirja’ yaitu ucapan “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun”. Perbuatan ini memiliki nilai pahala di sisi Allah azza wa jalla, yaitu seperti hadits yang diriwayatkan oleh Ummu Salamah ra yang mendengar Rasulullah bersabda,
مَا مِنْ عَبْدٍ يُصِيْبُهُ مُصِيْبَةٌ فَيَقُوْلُ: إِنَّا لِلَّهِ وَ إِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُوْنَ, اَللَّهُمَّ أَجِرْنِيْ فِي مُصِيْبَتِيْ وَ أَخْلُفْلِيْ خَيْرًا مِنْهَا إِلاَّ ىاَجَرَهُ اللهُ فِيْ مُصِيْبَةِ وَ أَخْلَفَ لَهُ خَيْرَا مِنْهَا.
Artinya, “Tiada seorang hamba yang mendapat musibah, lalu dia mengucapkan “Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun, Ya Allah, berilah aku pahala disebabkan musibah ini dan gantilah ia dengan yang lebih baik daripadanya.” melainkan Allah memberinya pahala atas musibahnya dan menggantinya dengan yang lebih baik daripadanya.” (HR. Muslim)
Kemudian Imam Ahmad meriwayatkan dalam sanadnya dari Husein bin Ali dari Rasulullah saw, bahwa beliau pernah bersabda,
Artinya, “Tiada seorang muslimpun, baik laki-laki maupun perempuan yang mendapat musibah, lalu dia mengingatnya sesudah lama berlalu, kemudian membaca kalimat istirja’ meskipun sudah berlalu lama, melainkan Allah akan memeberinya kembali pahala bacaan yang sama dengan pahala bacaan ketika musibah itu pertama-kali terjadi.” (HR. Imam Ahmad)
Rasulullah pun sudah tegas dalam sabda lainnya yang melarang perbuatan yang bukan mencerminkan sikap sebagai seorang muslim, yaitu
لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْحُدُوْدَ وَ شَقَّ الْجُيُوْبَ وَ دَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ.
Artinya, “Tidak termasuk golongan kami—orang yang memukul-mukul muka, merobek-robek baju, dan berteriak-teriak seperti orang-orang jahiliyah.” (HR. Muttafaqun ‘alaihi)
Merujuk kepada ayat dan hadits-hadits Rasulullah diatas, jelas perbuatan penganut Syi’ah yang selalu menisbatkan-diri kepada Islam itu tidak sejalan dengan petunjuk dien Islam. Ritual yang mereka jalankan berupa menangis histeris, memukul-mukul wajah, merobek-robek baju, penyiksaan diri dengan melukai anggota tubuh, mengucapkan kalimat-kalimat penuh kemarahan, dan sebagainya yang terlarang merupakan cerminan sikap mereka yang berkiblat kepada adab-adab jahiliyah. Selayaknya seorang muslim sudah sangat bisa memahami keyakinan mereka yang sesat sebab perihal ini sudah sangat nyata dan gamblang Allah Ta’ala sampaikan, baik melalui firman-Nya maupun hadits rasul-Nya. Bukan malah ikut-ikutan apalagi memfasilitasi ritual sesat tersebut. Kenyataan ini memang memprihatinkan, dimana kesesatan dianggap tradisi, lalu tradisi lebih mendapat pengayoman sehingga dirasa patut untuk dijaga kelestariannya.
Dalam menyambut hari Asyura’, Rasulullah mencukupkan diri dengan melaksanakan shaum sunnah. Tidak ada perintah lain dan tambahan-tambahan perayaan didalamnya sehingga tidaklah layak kita membuat-buat dalil yang justru menyelisihinya, karena sebaik-baik pedoman bagi umat Islam adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk rasul-Nya, yang tidak ada petunjuk selainnya kecuali hanya dengan berpegang-teguh kepada kedua hal tersebut. Selayaknya umat Islam hidup dengan mengikuti pemahaman para sahabat, tabi’in dan tabi’ut-tabi’in. Berhati-hatilah terhadap bid’ah karena tak ada balasannya melainkan an-Naar. Naudzubillahi min dzaalika.
Demikian, semoga memberi manfaat.
Walhamdulillahi Robbil ‘alamiin…
Oleh : Ustadz Abu Jibriel Abdul Rahman
Source: abujibriel.com
- See more at: http://www.arrahmah.com/read/2012/11/27/25075-pesta-kematian-padang-karbala.html#sthash.3u3GY9ED.dpuf
Back To Top