Video klip Jokowi Jangan Kau Ragu  menampilkan Haddad Alwi dan penyanyi wanita Rara Tarmizi di sebuah studio rekaman. Ada juga adegan para penari pria dan wanita menari di taman.
Video itu diunggah oleh Haddad Alwi pada Selasa (10/2 2015).
Haddad Alwi penyanyi yang dikenal ghuluw karena menyanjung Ali ra secara berlebihan itu diduga sebagai misionaris syiah.
Baca artikel  selengkapnya di KESESATAN SYIAH  tafhadol
Selama ini orang menganggap Haddad Alwi sebagai penyanyi yang mungkin nyanyiannya disebut nyanyian religi. Sehingga dengan merilis nyanyian tentang dukungannya terhadap Jokowi ini pun dikemas dengan doa (se-doa-doanya?).
Mendoakan penguasa hal yang biasa. Tetapi doa dengan nyanyi diiringi musik, apakah memang itu tuntunan agama, karena justru Islam melarang/ mengharamkan musik.
Fatwa tentang Haramnya Musik
وقد دلت السنة الصريحة الصحيحة عن النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ على تحريم سماع آلات الموسيقى .
روى البخاري تعليقاً أن النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال : (لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَالْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ . . .) . والحديث وصله الطبراني والبيهقي .
والمراد بـ (الحر) الزنى .
والمعازف هي آلات الموسيقى .
والحديث يدل على تحريم آلات الموسيقى من وجهين :
الأول : قوله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : (يستحلون) فإنه صريح في أن الأشياء المذكورة محرمة، فيستحلها أولئك القوم .
الثاني : قرن المعازف مع المقطوع حرمته وهو الزنا والخمر ، ولو لم تكن محرمة لما قرنها معها .
انظر : السلسلة الصحيحة للألباني حديث رقم (91) . فتاوى الإسلام سؤال وجواب بإشراف : الشيخ محمد صالح المنجدالمصدر :www.islam-qa.com سؤال رقم 12647(
Sunnah yang jelas lagi shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sungguh telah menunjukkan atas haramnya mendengarkan alat-alat musik. Al-Bukhari telah meriwayatkan secara mu’allaq (tergantung, tidak disebutkan sanadnya) bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
لَيَكُونَنَّ مِنْ أُمَّتِي أَقْوَامٌ يَسْتَحِلُّونَ الْحِرَ وَالْحَرِيرَ وَالْخَمْرَ وَالْمَعَازِفَ. (رواه البخاري).
Layakunanna min ummatii aqwaamun yastahilluunal hiro wal hariiro wal khomro wal ma’aazifa.
“Sesungguhnya akan ada dari golongan ummatku beberapa kaum yang menghalalkan zina, sutera, khamar, dan ma’azif (musik).” (Hadits Riwayat Al-Bukhari).Hadits ini telah disambungkan sanadnya oleh At-Thabrani dan Al-Baihaqi (jadi sifat mu’allaqnya sudah terkuak menjadi maushul atau muttasholus sanad, yaitu yang sanadnya tersambung atau yang tidak putus sanadnya alias pertalian riwayatnya tidak terputus). Lihat kitab as-Silsilah as-shahihah oleh Al-Albani hadis nomor 91.
Yang dimaksud dengan الْحِرَal-hira adalah zina; sedang الْمَعَازِفَal-ma’azif adalah alat-alat musik.
Hadits itu menunjukkan atas haramnya alat-alat musik dari dua arah:
Pertama: Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamيَسْتَحِلُّونَ menghalalkan, maka itu jelas mengenai sesuatu yang disebut itu adalah haram, lalu dihalalkan oleh mereka suatu kaum.
Kedua: Alat-alat musik itu disandingkan dengan yang sudah pasti haramnya yaitu zina dan khamar (minuman keras), seandainya alat musik itu tidak diharamkan maka pasti tidak disandingkan dengan zina dan khamr itu.
(Fatawa Islam, Soal dan Jawabjuz 1 halaman 916, dengan bimbingan Syaikh Muhammad Shalih al-Munajid. Sumber: www.islam-qa.com, soal nomor12647).
Persolan kedua, Haddad Alwi disoroti sebagai missionaris aliran sesat di antaranya karena menyanyikan lagu Ya Thaiba yang ghulwuw (berlebihan) dalam menyanjung Ali ra. Lantas apakah berdoa dengan nyanyian musik untuk Jokowi itu tidak berbau menjilat?
Kalau diteruskan, akan ada ucapan, menjilat ya menjilat saja, tak usah bawa-bawa Asma Allah dalam doa apalagi doa dimusiki.
Ketika bentuk oplosan berupa doa, menyebut Allah sambil nyanyi dimusiki, lalu dikaitkan dengan demokrasi, lantas ke mana arahnya?
Simak lirik nyanyian Haddad Alwi dalam lagu, Jokowi Jangan Kau Ragu:
Jokowi jangan kau gentar
Jokowi jangan kau bimbang
Jokowi jangan kau ragu
Rakyat ada bersamamu
Ya Allah Ya dzal Jalali
Bersihkanlah bangsa ini
Dari pengacau pencuri
Penjahat demokrasi (salah satu bait dalam nyanyian Haddad Alwi berjudul Jokowi Jangan Kau Ragu).

Lafal “penjahat demokrasi” itu bisa mengandung makna yang tidak nyambung dengan doa tersebut. Bayangkan, kalau seseorang tetap menentang sesuatu yang secara demokrasi disepakati, namun secara hukum Allah dilarang, bukankah itu sebagai penjahat demokrasi, namun justru taat kepada Allah?
Misalnya, secara demokrasi, ketika para wakil rakyat menyetujui dibangunnya patung tertinggi apa yang mereka sebut “Anak Tuhan”, maka boleh dibangun, menurut demokrasi. Lantas orang yang tetap teguh taat kepada Allah tentu menentangnya. Karena itu jelas menentang ayat Allah yang sangat mengharamkan kemusyrikan dengan aneka rangkaiannya. Apakah orang yang taat kepada Allah seperti itu pantas didoakan kepada Allah agar dibersihkan hingga tidak ada lagi orang yang taat kepada Allah?
Betapa mengerikannya, doa menirukan Bal’am bin Ba’ura yang mendoakan keburukan untuk Nabi Musa ‘alaihis salam demi penguasa saat itu.
Ini bukan berarti mengqiyaskan penguasa kini ibarat penguasa kejam di zaman Nabi Musa ‘alaihissalam, sedang yang didoakan jelek itu orang yang ibarat Nabi Musa; bukan. Ini hanya mempersoalkan lafal “Penjahat demokrasi” dalam nyanyian doa Haddad Alwi tersebut.
 Kenapa orang nyanyi saja dipersoalkan?
Mari kita simak rangkaian-rangkaiannya, sehingga kita faham. Kini syiah sudah meresahkan Umat Islam, bahkan syiah yang masih minoritas pun berani menyerang dan menculik Umat Islam di Masjid Az-Zikra Sentul Bogor, Februari 2015, maka nyanyian missionaris syiah yang ditengarai menjilat penguasa dan berisi doa seperti tersebut, perlu dibahas.
Oknum-oknum missionaris kesesatan.
Adanya kelompok tertentu yang oknum-oknumnya dikenal dan diakui sebagai missionaries aliran sesat Syi’ah. Ada kedekatan kepentingan dari oknum-oknum yang dibiarkan oleh kelompoknya itu untuk mendukung dan membiarkan merajalelanya aliran sesat Syi’ah di Indonesia.
Satu sisi untuk mempertahankan apa yang mereka klaim sebagai keturunan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dengan Fathimah putri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sehingga memiliki jalur keturunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sementara itu aliran sesat Syi’ah yang orang-orang ghulatnya (ekstrimnya) sampai dihukum bakar oleh Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu karena mereka menganggap bahwa Ali radhiyallahu ‘anhu itu adalah titisan Tuhan dengan sebutan “Anta, Anta” (Engkau, Engkau, maksudnya adalah jelmaan Tuhan), justru mengobarkan cintanya kepada ‘Ali radhiyallahu ‘anhu dengan ghuluw (ekstrim) pula.
Contoh nyata, nyanyian Ya Thaybah yang didendangkan penyanyi Haddad Alwi di Indonesia mengandung pujaan ghuluw terhadap ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
Berikut ini mari kita simak:
Mengenai nyanyian Ya Thaybah (wahai Sang Penawar) itu juga nyanyian, hanya berbahasa Arab. Kalau nyanyian berbahasa Indonesia, Inggeris atau lainnya yang biasanya berkisar tentang cinta, pacaran dan sebagainya, misalnya dinyanyikan di masjid, orang sudah langsung faham bahwa itu tidak boleh.
Nyanyian cinta-pacaran seperti itu justru kesalahannya jelas. Orang langsung tahu. Sebaliknya, kalau nyanyiannya itu seperti Ya Thoybah, kalau itu mengandung kesalahan (dan memang demikian), justru orang tidak mudah untuk menyalahkannya. Karena dia berbahasa Arab, dan menyebut nama sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyebut Al-Quran dan sebagainya.
Padahal, nyanyian Ya Thoybah itu justru isinya berbahaya bagi Islam, karena ghuluw (berlebih-lebihan) dalam memuji Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
Berikut ini kutipan bait yang ghuluw dari nyanyian Ya Thoybah (wahai Sang Penawar):
Ya ‘Aliyya ibna Abii Thoolib Minkum mashdarul mawaahib.
Artinya: “Wahai ‘Ali bin Abi Thalib, darimulah sumber keutamaan-keutamaan (anugerah-anugerah atau bakat-bakat).”
Bagaimanapun, ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu adalah manusia biasa, bukan Tuhan. Di dalam nyanyian itu sampai disanjung sebegitu, dianggap, dari ‘Ali lah sumber anugerah-anugerah atau bakat-bakat atau keutamaan-keutamaan. Ini sangat berlebihan alias ghuluw.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
َ إِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِالْغُلُوِّ فِي الدِّينِ
Artinya: “Jauhilah olehmu ghuluw (berlebih-lebihan), karena sesungguhnya rusaknya orang sebelum kalian itu hanyalah karena ghuluw –berlebih-lebihan– dalam agama.” (HR Ahmad, An-Nasaai, Ibnu Majah, dan Al-Hakim, dari Ibnu Abbas, Shahih).
Ali ra sendiri pernah disikapi seperti itu. Abdullah bin Saba’, pendeta Yahudi dari Yaman yang pura-pura masuk Islam, bekata kepada Ali: “Engkau lah Allah”. Maka ‘Ali bermaksud membunuhnya, namun dilarang oleh Ibnu ‘Abbas. Kemudian ‘Ali cukup membuangnya ke Madain (Iran). Dalam riwayat lain, ‘Abdullah bin Saba’ disuruh bertaubat namun tidak mau. Maka ia lalu dibakar oleh ‘Ali (dalam suatu riwayat). (lihat Rijal Al-Kusyi, hal 106-108, 305; seperti dikutip KH Drs Moh Dawam Anwar, Mengapa Kita Menolak Syi’ah, LPPI Jakarta, cetakan II, 1998, hal 5-6). https://www.nahimunkar.com/26-penyebab-merajalelanya-kesesatan-di-indonesia-3-36/
Penyanyi Haddad Alwi Ternyata Syiah #
Ia adalah penyanyi yang cukup terkenal yang biasa berduet dengan biduanita Sulis. Salah satu lagunya yang berjudul Ya Thoyibah, diubah liriknya dalam bahasa Arab dan berisi pujian pada Ali bin Abi Thalib secara berlebihan.
Dalam kunjungannya ke pengungsian Syiah di Sampang, 29/9/2012, ia mengatakan, “Nggak ada orang mau masuk surga tidak diuji, Rasulullah tidak jauh dari kita, dan jangan ragu Rasullulah tidak sayang sama kita. Penderitaan Rasullulah lebih berat ujiannya daripada ujian kita.”
Mengenai nyanyian Ya Thoybah (wahai Sang Penawar) itu juga nyanyian, hanya berbahasa Arab. Kalau nyanyian berbahasa Indonesia, Inggeris atau lainnya yang biasanya berkisar tentang cinta, pacaran dan sebagainya, misalnya dinyanyikan di masjid, orang sudah langsung faham bahwa itu tidak boleh.
Nyanyian cinta-pacaran seperti itu justru kesalahannya jelas. Orang langsung tahu. Sebaliknya, kalau nyanyiannya itu seperti Ya Thoybah, kalau itu mengandung kesalahan (dan memang demikian), justru orang tidak mudah untuk menyalahkannya. Karena dia berbahasa Arab, dan menyebut nama sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyebut Al-Quran dan sebagainya.
Padahal, nyanyian Ya Thoybah itu justru isinya berbahaya bagi Islam, karena ghuluw (berlebih-lebihan) dalam memuji Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu.
Berikut ini kutipan bait yang ghuluw dari nyanyian Ya Thoybah (wahai Sang Penawar):
Ya ‘Aliyya bna Abii Thoolib Minkum mashdarul mawaahib.
Artinya: “Wahai Ali bin Abi Thalib, darimulah sumber keutamaan-keutamaan (anugerah-anugerah atau bakat-bakat).”
Dalam video klip Ya Thayibah Haddad Alwi di Youtubehttp://www.youtube.com/watch?v=mJM1D_LNdDk pada menit ke 1.49, seorang anak kecil sujud shalat di atas turbah Husainiyah (tanah Karbala).
Status Nasehat
Bantu #‎SHARE ya agar sobat-sobat kita tahu tentang sesatnya syiah dan menjauhi lagu2 ‘syiah’ nya haddad alwi… semoga Allah memberi anda balasan kebaikan yang banyak. jaazakumullahu khairan…

 WASPADA LAGU-LAGUNYA HADDAD ALWI DAN SULIS KARENA BERBAU SYIAH

Bagaimana bisa ada orang yang membenci Syiah tapi masih mengidolakan tokoh2 Syiah dan menggemari karya2 mereka?
Semoga mereka melakukannya karena kebodohannya atau ketidak tahuannya akan hal itu. Ini peringatan untuk kita agar tidak asal ikut2an.
Karena banyak dari orang2 kita yang membenci Syiah, melaknat Syiah, namun mereka masih mengidolakan tokoh Syiah dan menyukai karya2nya. Mereka masih mengidolakan tokoh Syiah semisal Muhammad Quraish Shihab yang pemikirannya banyak terpengaruh ajaran Syiah, berikut dengan karyanya Tafsir Al Misbah.
Tidak ketinggalan juga dengan artis yang populer di Indonesia, yang pemikirannya juga terpengaruh ajaran Syiah, yaitu Haddad Alwi dan sulis.
Jangan kaget kalo lagu2 yang mereka bawakan diambil dari lagu2 ajaran Syiah. Seperti lagu berikut ini:
“Ya Thayyibah…ya Thayyibah…”
Contoh (dijamin 100% Syiah):
http://www.youtube.com/watch?v=9h2Wv-24rMc&feature=related
(Ket: Jangan didengarkan dan jangan dinikmati lagunya. Sekedar referensi saja)
 (lebih jelasnya, baca buku Tasawuf Belitan Iblis, Darul Falah, Jakarta, 1422H, atau Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, 2002, atau Tarekat Tasawuf Tahlilan dan Maulidan, WIP Solo, 2007).
(nahimunkar.com)
Axact

Axact

Vestibulum bibendum felis sit amet dolor auctor molestie. In dignissim eget nibh id dapibus. Fusce et suscipit orci. Aliquam sit amet urna lorem. Duis eu imperdiet nunc, non imperdiet libero.

Post A Comment:

0 comments:

Back To Top